Vaksin Gotong Royong Jangan Ganggu Vaksin Program

JagatBisnis.Com – Ketua Policy Center Ikatan Alumni Universitas Indonesia (Policy Center ILUNI UI) M. Jibriel Avessina mengingatkan pemerintah agar vaksinasi gotong royong tidak mengganggu jalannya vaksinasi program. Menurutnya, pemerintah harus tetap mendahulukan prioritas yang telah ditetapkan dalam vaksinasi program.

Dia menyoroti, dalam peraturan tertulis tentang vaksinasi gotong royong tidak tercantum vaksin ini ditujukan untuk giliran yang keberapa. Untuk itu, Jibriel melihat perlunya pengawalan dalam pelaksanaan program vaksinasi gotong royog agar tidak mengganggu prioritas.

“Vaksinasi gotong royong harus diberikan giliran terakhir dalam pelaksanaan vaksinasi, setelah pelaksanaan sektor-sektor prioritas di vaksinasi program selesai. Setelah nakes, lansia, tenaga pelayanan publik, dan prioritas rentan sosial ekonomi. Baru setelah itu mungkin kita bisa dorong vaksinasi gotong royong dilakukan,” tegas Jibriel dalam diskusi daring Forum Diskusi Salemba dengan tema “Strategi Indonesia dalam Proses Vaksinasi Mandiri COVID-19”, Rabu (3/3)

Selanjutnya, Jibriel juga mendorong para pemangku kepentingan dalam pemerintahan untuk melakukan sosialisasi dalam perencanaan skema waktu dan jadwal dari para peserta vaksinasi gotong royong.Dia meminta agar pelaksanaan vaksinasi gotong royong tidak bersamaan dengan pelaksanaan vaksinasi program.

“Kita dukung pelaksanaan vaksinasi secara optimal dan masif, tapi tidak mengorbankan prinsip universal dan keutamaan. Tidak boleh ada kelompok yang diistimewakan dalam vaksinasi. Kami dukung kebijakan pemerintah, tapi dengan pengawalan dan catatan kritis jika dirasa kebijakan itu perlu ada pemantauan optimal,” tukasnya.

Senada dengan Jibriel, Epidemiolog UI Pandu Riono juga mengingatkan pemerintah agar tetap memprioritaskan pemberian vaksin berdasarkan usia dan wilayah. Baru setelah itu, prioritas vaksin diberikan berdasarkan profesi.

“Prioritaskan vaksin untuk lansia karena angka kematian lansia tinggi, sudah mencapai 50%. Kalau sudah lansia dan nakes, jangan kelompok-kelompok lain memotong rantai antrian karena mereka punya power politik. Mulai dari lansia, nanti semua akan kebagian dengan gilirannya,” kata Pandu.

Menurut Pandu juga, keinginan mencapai target herd immunity atau kekebalan kelompok dalam satu tahun merupakan hal yang mustahil dicapai. Dia menekankan, yang terpenting adalah mengendalikan pandemi sebelum berbicara herd immunity. Dalam mengendalikan pandemi, ada konsep angka reproduktif yaitu berapa banyak rata-rata orang yang menularkan virus.

”Pada awal pandemi sekitar 2 lebih R0, dengan adanya PSBB kita sudah mencapai 1. Seharusnya dibawah 1. Kalau dibawah 1, artinya kurva melandai,” jelasnya.

Untuk itu, Pandu menilai penting untuk menekan angka reproduktif tersebut. Caranya dengan tetap melakukan 3M untuk mengurangi populasi berisiko yang membawa virus. Pengurangan hanya bisa ditekan dengan perubahan perilaku masyarakat yakni memakai masker dan menjaga jarak. Pemerintah juga punya tugas membawa surveilans dan memperkuat 3T (Testing, Tracing, dan Treatment).

“Perjalanan kita tidak lompat ke herd immunity, tapi ke tujuan antara yaitu wabah terkendali. Orang tidak lagi ketakutan, rumah sakit tidak banyak kasus dirawat, kematian mendekati nol. Untuk itu pandemi harus terkendali. Vaksinasi, 3M, dan 3T harus dilakukan,” tegas dia lagi.

Sementara itu, Direktur Utama RSUI dr. Astuti Giantini, Sp. PK (K), MPH menyatakan kesiapan RSUI sebagai rumah sakit rujukan COVID-19 sekaligus pelaksana vaksin. Dia menjelaskan, RSUI memiliki alur pasien dan pengunjung. Selain itu, terdapat skrining awal pasien, pengunjung, dan pegawai di rumah sakit. RSUI juga tetap menerapkan 3M yaitu mengukur suhu, memakai masker, dan menyediakan fasilitas cuci tangan.

Selain itu, RSUI juga memiliki satu klinik dengan ruangan terbuka di bawah gedung parkir. “Ada Klinik Melati yang melayani sampai 250 pasien per hari. Di rumah sakit, kami memisahkan antara yang covid dan noncovid,” tuturnya.

Dalam pelaksanaan vaksin, dr. Astuti menyebut RSUI telah melakukan vaksin untuk lebih dari 1.000 tenaga kesehatannya. Distribusi penerima vaksin di RSUI total mencapai 1.663 untuk tahap pertama dan tahap kedua sebesar 703. RSUI  sudah memulai vaksinasi lansia dari 1 maret dengan jatah untuk tahap pertama sebesar 1.813. RSUI juga mendapat tugas untuk melakukan vaksinasi untuk lima kelurahan di Depok, di antaranya kelurahan Bakti Jaya dan Mekar Jaya.

“Kami komitmen dan dedikasi dengan pendekatan paripurna, peran aktif dalam vaksinasi, dan persiapan untuk vaksinasi gotong royong di bulan April. Ini komitmen kami,” pungkas dr. Astuti.(hab)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button