Penjajahan di Pusat Keberkahan

jagatBisnins.com – Penjajahan Palestina oleh zionis Israel semakin terasa di Masjid Al-Aqsa ketika setiap pengunjung yang akan beribadah sangat dibatasi. Laki-laki Palestina berusia 15-50 tahun tidak diizinkan masuk kecuali ketika hari raya. Demikian juga pengunjung perempuan. Jika dia aktivis, maka dia dilarang masuk.

Maimon Herawati, Ketua SMART 171 mengajak para peserta Al-Aqsa Awareness Week (AAW) 2020 membayangkan jika pembatasan tersebut terjadi di Ka’bah yang merupakan kiblat umat Islam saat ini.

“Bayangkan ketika kita mau tawaf di Ka’bah mau masuk ke dalam masjidil Haram ada pasukan zionis Israel yang menghadang dan menentukan apakah bisa masuk atau tidak. Setelah itu, tiba-tiba masuk ratusan orang Yahudi ke dalam Masjidil Haram lalu mereka beribadah di dalamnya. Perasaan kita pasti sakit, tidak rela. Begitulah seharusnya kita ketika Al-Aqsa dikepung oleh zionis Israel,” jelasnya.

Hari kedua AAW 2020, Selasa (27/10) bertajuk “Al-Aqsha, Cinta yang Terlupakan” mengajak para peserta kembali menggali hakikat mencintai tanah suci ketiga ini bagi seorang muslim. Seperti yang diketahui, Palestina saat ini berada dalam penjajahan zionis Israel.

Maimon menjelaskan penjajahan tersebut berawal dari Gerakan Zionis Internasional yang dimulai oleh Theodore Herlz. Ia mendekati tiga raja pada masa itu, yaitu Sultan Abdul Hamid II, King Victorio Emmanuel III, dan Paus Pius X agar bisa membeli tanah di wilayah kekuasaannya untuk dijadikan negara tempat mendirikan negara Yahudi.

“Theodore Herlz, dalam diarinya ingin membangun negara-negara sekuler, bukan negara riligius seperti yang diyakini oleh agama Yahudi itu sendiri,” kata Maimon.

Lebih lanjut, Maimon menjelaskan Theodore akhirnya mendekati penguasa Inggris yang saat itu melawan pemerintahan Turki Utsmani, untuk mendapatkan dukungan membangun negara Israel di atas tanah Palestina, sehingga lahirlah Balfour Declaration tahun 1917, janji Inggris menyiapkan tanah bagi bangsa Yahudi yang berlokasi di Palestina. Sejak saat itu, pendudukan zionis Israel terus berlangsung sampai sekarang.

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Yerussalem atau dikenal juga dengan Al-Quds memiliki batas-batas wilayah bagi setiap umat beragama, yakni wilayah Muslim, Nasrani, Yahudi, serta Armenia. Setiap warganya berhak menjalankan agama mereka masing-masing dengan damai. Hal ini hanya terjadi pada masa kepemimpinan Islam, sedangkan pada masa pemerintahan Romawi sebelumnya, setiap umat beragama Yahudi/Nasrani berkuasa, mereka mengusir penganut agama lainnya dari Al-Quds.

Salah satu warisan Umar bin Khattab adalah bahwa umat Muslim dan Nasrani boleh tinggal di Al Quds, Yahudi yang sempat terusir juga boleh kembali ke Al-Quds dengan syarat tinggal di wilayah yang kosong (tidak ditinggali penduduk Muslim maupun Nasrani). Bagaimanapun, Al-Quds merupakan kota suci bagi tiga umat beragama.

Bagi umat Yahudi, Al-Quds merupakan tempat Nabi Musa mengarahkan mereka setelah menyelamatkan diri dari Fir’aun. Bagi umat Nasrani, Al-Quds adalah tempat Yesus dilahirkan dan tempat ia disalib, serta dimakamkan. Sedangkan bagi umat Muslim, Al-Quds adalah tempat kiblat pertama tertuju, Al-Aqsha. Selain itu, Al-Aqsha merupakan tanah para nabi, sehingga pusat keberkahan dunia ada di sana.

“Ketika kita berjalan di sana, kita berjalan di jalan yang dijajaki oleh Rasulullah SAW dan para nabi. Setiap tanah di sana ada jejak para nabi. Wajar kalau itu disebut pusat keberkahan dunia,” jelas Maimon.

Saat ini, Al-Aqsha dikelola oleh Yerusalem Islamic Wakaf dibawah Kementrian Wakaf Jordan yang menangani masalah keamanan, dan pengelolaan Al Aqsha. Namun, rumah ibadah umat Muslim itu sering diserbu ratusan Yahudi Israel untuk melakukan ibadah mereka di dalamnya.

“Saya masih ingat salah satu partner NGO kami. Dia sangat menyesal, mengapa dahulu dia tidak ikut bapaknya salat ke Al-Aqsha setiap Jumat. Saat ia dewasa, laki-laki Gaza tidak bisa pergi salat ke Masjid Al-Aqsha karena dibatasi secara ketat oleh zionis Israel,” jelas Maimon.

Hana Fatimah, salah seorang peserta mengutarakan kesedihannya, “Padahal kita jauh dari pusat keberkahan dunia, tapi di sini kita masih mengabaikan upaya mendapatkan berkah, pun juga tidak mencari tahu bagaimana keadaan di sana. Selalu dibuat merinding dan menangis pembahasannya.”

Dalam kegiatan tersebut pun Maimon memaparkan video Neturai Karta, sekelompok penganut agama Yahudi yang menolak penjajahan Israel atas Palestina serta menolak ide zionis Israel untuk mengganti Masjid Al-Aqsha dengan Temple Yahudi. Dalam video itu, mereka mengatakan bahwa ketika terjadi holokaus di Eropa, orang-orang Yahudi mendapat perlindungan dari negara mayoritas muslim.

Di akhir, Maimon berpesan kepada para peserta untuk bisa menyambut pesan cinta Rasulullah untuk menghadirkan damai di muka bumi khususnya menghadirkan kembali perdamaian di tanah suci dan menempatkan perjuangan pembebasan Al-Aqsha lekat dengan hati dan terus bergerak dan tidak berhenti untuk membebaskan kiblat pertama sebagai pusat keberkahan dunia.(saf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button