Rencana Pembangunan Diorama 430 Tahun Sejarah Yogyakarta Senilai Rp18 Miliar

jagatBisnis.com – Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menganggarkan Rp18 miliar untuk pembuatan diorama yang merangkum 430 tahun perjalanan sejarah Yogyakarta. Bukan diorama biasa, melainkan semacam arsip berteknologi ramah generasi milenial.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) DIY Monika Nur Lastiyani menjelaskan, Gedung Depo Arsip lantai I Grhatama Pustaka rencananya jadi lokasi pembuatan diorama ini.

“Dengan luas sekitar atau tepatnya 1.432 meter (persegi),” kata Monika di Kompleks Kepatihan, Kota Yogyakarta, Selasa (20/10/2020).

Di atas ruangan seluas itu bakal berdiri diorama yang mengulas histori Yogyakarta sedari era Mataram Islam yang lahir di Hutan atau Alas Mentaok sampai masa keistimewaan.

Seluruhnya akan terbagi ke dalam 18 titik atau ruangan.

“Kurun waktu yang kita ambil, yaitu mulai dari Panembahan Senopati sampai dengan Keistimewaan. Jadi, itu kalau kita rangkum 430 tahun,” sambung Monika.

Belasan ruang tersebut tentu tak mampu menampung sejarah panjang Yogyakarta. Maka dari itu diambillah beberapa momen penting untuk disajikan melalui diorama.

“Bagaimana sejarah perjalanan Keraton Yogyakarta, bagaimana sejarah perjalanan Puro Kadipaten Pakualaman. Itu akan di-highlight dalam spot-spot itu,” ujarnya.

Dikatakan Monika, untuk semua konten tersebut akan disajikan dengan mengoptimalkan teknologi audiovisual kekinian. Harapannya, selain jadi media pembelajaran bagi generasi muda, juga memudahkan pengunjung dari kalangan usia mana pun meresapi alur sejarah Yogyakarta.

“Pengunjung bisa memanfaatkan handphone masing-masing untuk mencari informasi dan melihat video maupun audio yang ada di diorama ini. Intinya, diorama ini kekinian sekali dan benar-benar bisa dimanfaatkan oleh kaum milenial. Full audio visual,” beber Monika.

Monika melanjutkan, pihaknya setidaknya membutuhkan Rp18 miliar untuk merealisasikan diorama ini. Dana sebesar itu dialokasikan untuk pembangunan tahap permulaan, meliputi penyiapan sarana dan prasarana kemudian dilanjut pengembangan dan pemeliharaan.

“Terkait dengan anggaran, ini nanti akan dibangun dengan menggunakan Anggaran Keistimewaan tahun 2021. Tetapi, sebagaimana arahan tadi, sepertinya ini tidak akan tuntas dikerjakan dalam 1 tahun, tetapi nanti akan ada pengembangan,” bebernya.

Diorama ini, ditegaskan Monika, memang tak seperti produk-produk yang ada di museum pada umumnya. Sifatnya dinamis, arsipnya bisa terus diperbarui.

“Sangat luwes karena tergantung perkembangan khazanah arsip yang kita dapatkan. Saat nanti kita dapatkan arsip yang baru, maka kontennya akan kita sesuaikan. Jadi, ini bukan sesuatu yang statis seperti kita melihat museum, yang ditampilkan cuma itu-itu saja,” pungkasnya. (ser)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button