Ragam Psikotes untuk Sekolah Dasar dan Menengah

JagatBisnis.com – Psikotes dilakukan untuk mengetahui berbagai potensi yang dimiliki oleh setiap orang yang tidak terobservasi secara langsung. Sehingga kepribadian atau kemampuan orang tersebut dapat disesuaikan dengan potensi-potensi yang dimiliki. Jika ada sifat-sifat atau hal-hal kurang baik yang bisa ditimbulkan, bisa dilakukan antisipasi sebelumnya.

Pada perkembangannya, psikotes dilakukan untuk tujuan yang bermacam-macam. Bahkan, di Indonesia psikotes sudah diterapkan untuk seleksi masuk sekolah dasar. Hal ini sah-sah saja dilakukan, karena lembaga memiliki kebijakan masing-masing.

Menurut Divisi Psikologi, Maudi Amanda dari penyedia jasa psikotes, PT. Ikhlas
Safari Mulia (ISM), ada 4 macam psikotes untuk anak sekolah dasar dan menengah. Pertama, Culture Fair Intelligence Test (CFIT) yang dikembangkan Raymond B. Cattel (1949). Psikotes ini untuk mengukur intelegensi individu dalam suatu cara yang direncanakan untuk mengurangi pengaruh kecakapan verbal, iklim budaya, dan tingkat pendidikan.

“Tes CFIT ini dikembangkan karena adanya perbedaan kebudayaan dapat mempengaruhi performance test. Adapun tujuan tes ini untuk keperluan yang berkaitan dengan faktor kemampuan kecerdasan. Selain itu, untuk kemampuan analisis dalam situasi abstrak dari pengaruh budaya. Tujuan lainnya, untuk mengukur kemampuan umum dan Fluid Ability seseorang,” kata Maudi dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin (31/5/2021).

Psikotes yang kedua, lanjutnya, Test Kemampuan Diferensial (TKD) yang test inteligensi, dan termasuk ke dalam battery test, yang mencakup beberapa macam aspek inteligensi individu. Tes ini mengembangkan tes psikologi sebagai penerus dari tes Tintum Test yang mulai dikembangkan tahun 1976.

“Saat ini, TKD sudah disesuaikan dengan kebudayaan dan juga kondisi nilai-nilai yang berlaku di Indonesia. Sehingga menjadi salah satu test inteligensi yang banyak digunakan secara general dan umum. Dasar teori dari pengembangan TKD ini adalah teori inteligensi yang diungkapkan oleh Thurstone,” ungkapnya.

Sedangkan, tambah Maudi, psikotes yang ketiga, Rothwell Miller Interest Blank (RMIB). Ini adalah alat tes minat bakat yang sudah terstandarisasi. Alat ini dipakai untuk mengungkap minat dan kecenderungan rasa suka atau tidak suka akan suatu kegiatan ataupun pekerjaan yang dimiliki individu.

“Adapun tujuan dari tes ini untuk mengukur minat seseorang berdasarkan sikap seseorang terhadap suatu pekerjaan. Kegunaan tes ini digunakan dalam bidang konseling karier, konseling pekerjaan, penjurusan siswa, perencanaan bahan bacaan siswa,” paparnya.

Maudi menerangkan tes yang keempat adalah Wartegg Test yang merupakan salah satu bahan tes psikologi. Di mana, peserta akan diminta untuk melengkapi gambar. Tes ini dibuat untuk mengetahui karakter seseorang dari segi imajinasi, emosi, dinamisme, reality function, dan kemampuannya dalam mengontrol sesuatu.

“Tujuan tes ini untuk mengetahui karakter seseorang dari segi imajinasi, emosi, dinamisme, reality function, dan kemampuannya dalam mengontrol sesuatu,” tegasnya.

Dia mengatakan, ada 2 cara untuk mengerjakan untuk tes ini. Pertama, tes ini terdiri dari 8 kotak yang harus dilengkapi gambarnya. Dimana, dalam setiap kotak berisi gambar awal yang berbeda-beda mulai dari titik, garis maupun gabungan keduanya. Setiap titik dan garis yang terbentuk harus dilengkapi menghasilkan gambar yang baik dan tentunya memiliki makna tersendiri dalam ilmu psikologi.

“Cara kedua mengerjakan tes ini adalah, peserta test akan diberikan perintah untuk memberi nomor gambar sesuai dengan urutan ketika menggambar, gambar paling mudah dan paling sulit serta gambar yang paling disukai,” tutup Maudi. (eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button