Utang RI di Pemerintahan Jokowi Menggunung

JagatBisnis.com – Ekonom senior Rizal Ramli mengingatkan semakin beratnya beban pemerintahan Jokowi membayar cicilan serta bunga utang luar negeri, dampak anjloknya nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS.

“Pemerintah harus bayar Rp405 triliun untuk bunga (utang) dan Rp400 triliun untuk (cicilan) pokok, totalnya Rp805 triliun. Itu dengan kurs Rp14.500 per dolar AS. Nah, sekarang dolar AS sudah di atas Rp15 ribu, artinya naik. Bayar Rp805 triliun saja sudah berat apalagi kalau naik,” tegas Rizal dalam sebuah diskusi daring, Jakarta, dikutip Jumat (21/10/2022).

Untuk membayar cicilan bunga dan utang pokok, kata Rizal, pemerintah Indonesia sudah tidak kuat. Ujung-ujungnya, pemerintah Indonesia di bawah Jokowi harus jor-joran mengeluarkan surat utang atau bonds. “Kini sudah bukan lagi gali lubang tutup lubang, tetapi gali lubang tutup jurang. Saking gedenya utang luar negeri pemerintah,” tandasnya.

Baca Juga :   Bayar Utang, Cadangan Devisa Turun Jadi USD139,1 Miliar

Bukan hanya itu, masih kata Menko Ekuin era Presiden Gus Dur itu, pemerintahan Jokowi menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) diduga bukan lantaran berhemat subsidi. Namun meraup dana dari keringat rakyat, untuk membayar itu tadi, cicilan bunga dan pokok.

Baca Juga :   Utang Lagi, RI Digelontorkan 150 Juta Dolar AS

Selanjutnya, mantan Menko Kemaritiman di periode pertama Jokowi ini, menyebut Indonesia telah mengalami krisis keuangan. Namun ada bedanya dengan krisis 1998, ketika itu pemicunya adalah menggunungnya utang swasta. Saat ini, utang swasta aman, sementara utang luar negeri pemerintah sudah tidak aman. “Saat ini, oligarki pemilik tambang, batu bara dan sawit malah pesta pora karena tingginya harga komoditas. Utang negara sudah berlebihan karena pengelolaan yang serampangan,” ungkapnya.

Kekhawatiran Rizal Ramli atas beratnya beban pemerintah membayar utang, masuk akal. Karena bayar dengan dolar AS, nilainya sangat ditentukan kurs atau nilai tukar rupiah terhadap dolar AS. Pada Jumat (21/10/2022), mata uang Garuda dibuka melemah, mendekati level Rp15.600 per dolar AS.

Baca Juga :   Utang Pemerintah Nambah jadi Rp4.300 Triliun

Mengacu kepada data Bloomberg, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka Rp15.581 per dolar AS, anjlok ketimbang penutupan sebelumnya Kamis (20/10/2022) sebesar Rp 15.572 per dolar AS. Pelemahan rupiah terus berlanjut dalam kurun waktu 50 menit pertama perdagangan. Tercatat pada pukul 09.50 WIB nilai tukar rupiah melemah 0,15 persen ke Rp15.595 per dolar AS.(tia)