Kitabisa Makin Optimalisasi Teknologi Digital

JagatBisnis.com –  Kitabisa kini semakin kokoh sebagai pemain utama crowd funding filantropi di Tanah Air. Dua tahun terakhir manakala pandemi melanda, namanya bahkan makin berkibar lantaran derasnya arus bantuan kepada pihak yang membutuhkan yang menggunakan platform Kitabisa.

 

Berdiri pada tahun 2013 sebagai gerakan sosial, Kitabisa beralih menjadi wadah donasi online pada tahun 2014. Memanfaatkan teknologi digital, Kitabisa dibuat oleh Alfatih Timur (biasa disapa Timmy) untuk mewujudkan proyek sosial seseorang atau institusi. Campaign (kampanye) dapat dimulai dari siapa saja, baik individu maupun organisasi.

 

Kesuksesan Kitabisa, papar Timmy, karena dua faktor utama. Pertama, menerapkan inovasi program berbasis wisdom of crowd. Kedua, membangun trust di kalangan para donatur sehingga membuat mereka engage terhadap program yang digelar para campaigner.

 

Menyadari Kitabisa adalah open platform, wadah yang terbuka bagi siapa pun, maka alur inovasi program tidak datang hanya dari pengelola Kitabisa. Masyarakat bisa mengajukan usulan. Itulah misalnya yang terjadi di tahun 2016. “Kami dapat input dari kalangan dokter dan rumah sakit untuk membuka donasi bagi mereka yang sakit. Lalu kami lakukan,” ujar Timmy, founder dan CEO Kitabisa.

 

Wisdom of crowd adalah istilah untuk menggambarkan tentang “kebijaksanaan yang muncul dari opini kolektif”. Usulan-usulan yang masuk secara kolektif ini akhirnya menjadi DNA dalam Kitabisa, berjalan kontinyu hingga bertahun-tahun kemudian. “Wisdom of crowd juga diterapkan karena masyarakatlah yang punya gagasan yang penting untuk kebutuhan mereka,” Timmy menambahkan.

Bisa dikatakan, filosofi wisdom of crowd inilah yang membuat Kitabisa menjadi lincah bergerak ketika pandemi datang. Saat Covid-19 menerjang tanpa ampun, beberapa usulan deras mengalir dari masyarakat kepada Kitabisa seperti bantuan APD dan kebutuhan lain untuk mengatasi pandemi (seperti sembako). Bahkan sewaktu film Korea Selatan, Squid Game di Netflix tengah populer, Kitabisa mengembangkan “Permainan Cuma-Cuma” (Sweet Game). Di sini, peserta diberikan bantuan berupa donasi secara cuma-cuma. Mirip Squid Game, para peserta yang mendapat undangan, datang ke suatu tempat, berjejer secara teratur, lalu mendapat sembako dan kebutuhan harian lainnya oleh orang-orang berbaju merah seperti para penjaga di Squid Game.

 

Adapun untuk membangun trust yang sangat penting untuk keberlanjutan Kitabisa, terutama di kalangan para donatur, Timmy beserta tim membangun sistem yang ketat untuk memverifikasi setiap pihak yang ingin berkampanye, yang membuat proyek penggalangan dana. Sistem yang ketat ini dibuat agar Kitabisa tidak kecolongan pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab.

 

“Ke depannya, Kitabisa akan terus melakukan apa yang disebut connecting kindness, menghubungkan kebaikan para donatur. Kitabisa juga terus memanfaatkan teknologi untuk melakukan hal itu, termasuk dengan kemudahan transaksi pembayaran lewat fintek,” kata Timmy.

 

Keterangan tersebut diungkapkan Timmy dalam acara Indonesia Brand Forum (IBF) 2021, 4 November 2021. Dalam acara ini, dia juga menguraikan apa yang menjadi target Kitabisa dalam talkshow dengan topik “The Great Matchmaker: Winning the Multisided Platform Business”.

 

Kitabisa adalah salah satu Cool+Agile Brands yang diundang hadir dalam ajang Indonesia Brand Forum (IBF) 2021 yang berlangsung pada 2-4 November 2021. Dalam ajang ini, sejumlah brand lokal berbagi (sharing) seputar kinerja berikut kiat dan strategi bisnisnya masing-masing. Selain konferensi, pada IBF 2021 ini juga diluncurkan buku berjudul The Rise of Cool+Agile Brands. Dalam buku ini dikupas sekitar 30 brands yang mampu keluar dari jerat triple disruption. Merek-merek yang sukses melewati triple disruption ini disebut Cool+Agile Brands lantaran menawarkan model bisnis baru yang inovatif. (eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button