Ini Kategori Seseorang Alami Stres di Tengah Pandemi COVID-19

JagatBisnis.com – Pandemi COVID- 19 yang sudah berjalan selama hampir 1, 5 tahun di Indonesia ini berakibat pada sejumlah pandangan, termasuk kesehatan psikologis. Tak sedikit pula dari warga yang mungkin tidak mengetahui kalau mereka mengalami tekanan pikiran.

Dengan terdapatnya paparan informasi hal jumlah permasalahan terkonfirmasi positif yang mengalami ekskalasi dalam sebagian hari, sampai jumlah permasalahan meninggal dampak COVID- 19 diketahui berakibat pada intelektual warga.

Lalu semacam apa jenis seseorang mengalami tekanan pikiran paling utama saat endemi COVID- 19 semacam saat ini?

Terkait perihal itu, Ahli Medis Jiwa, Dokter. dokter. Fidiansjah, SpKJ, MPH pada, Kamis 8 Juli 2021 menjelaskan kalau warga dapat melihatnya dari berbagai pandangan. Semacam pencabutan diri dari suatu yang digemari.

” Itu tanda dini. Berarti terdapat satu reaksi yang membuat kita tidak menarik lagi melakukan perihal yang lazim. lalu antusias turun, ini dapat dari santapan jadi antusias turun itu berefek pada tidak hasrat makan ataupun kebalikannya hasrat makan bertambah untuk alihkan. Itu tanda yang wajib sudah jadi warning jika menyangkut sistem intelektual,” kata dokter Fidiansjah.

Tidak hanya itu, tanda yang lain yang pula dapat diperhatikan merupakan dari bagian biologisnya, semacam keringat dingin walaupun terletak di ruangan ber- AC, kaki dingin dan berair, berdebar- debar tanpa karena.

” Dan pula kerap diiringi sakit kepala keluhan raga dan serupanya itu tanda dini. Termasuk tidur susah tidur ataupun tersadar ataupun justru banyak tidur yang tidak baik cuma ingin tidur ingin tiduran saja,” jelas Fidiansjah.

Lalu bila butuh ke pemeliharaan kedokteran? Terkait perihal itu, Fidiansjah, mengatakan wajib diamati dari derajatnya. Jika masih dalam jenis enteng, mereka yang mengalami tekanan pikiran dapat melakukan sesi curhat.

Ataupun tutur, Fidiansjah dapat melakukan sejumlah relaksasi dengan melaksanakan kegiatan yang memunculkan kenaikan endorfinnya, termasuk makan- makanan bergizi.

” Tetapi jika sudah sedang bahkan berat kala orang tidak antusias timbul tidak memiliki impian hidup akhirnya lebih baik mati aja deh nah itu ancaman dan ini wajib terdapat pendekatan farmakoterapi dan obat yang diserahkan oleh ahlinya,” ucap Fidiansjah.(ser)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button