Alumni Belanda Minta Penguatan Kontribusi Peneliti, Kurangi Dampak Covid-19

jagatBisnis.com — Pandemi Covid-19 telah mempengaruhi kemajuan pencapaian SDGs dari sudut pandang kesehatan masyarakat. Oleh sebab itu, peneliti di Belanda dan Indonesia harus dapat berkontribusi mengurangi dampak pandemi yang  lebih parah di kemudian hari. Itulah salah satu pembahasan dalam talkshow perhelatan pekan kerjasama pendidikan dan riset Indonesia-Belanda (WINNER) 2020, bertema “Strengthening Public Health: Partnering in a time of Covid-19”, yang digelar secara virtual, Kamis (26/11/2020).

Alumunus kampus Erasmus University Medical Center Rotterdam, The Netherlands, Ahmad Fuady menjelaskan perlindungan sosial dan pengelolaan biaya yang disebabkan pandemi Covid-19 di Indonesia dan Belanda berdampak pada pencapaian SDGs bidang kesehatan. Karena pandemi mengakibatkan kemunduran capaian target kesehatan global 5-8 tahun ke belakang.

“Namun, pandemi juga menjadi pintu masuk utama untuk memperbaiki dan mengokohkan sistem kesehatan yang saat ini dijalankan, termasuk di Indonesia,” tegasnya yang juga salah satu tim peneliti di fakultas Kesehatan Universitas Indonesia dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Sabtu (29/11/2020).

Menurutnya, untuk memecahkan segala persoalan terkait pandemi dan dampaknya pada capaian SDGs, dibutuhkan upaya kolaborasi lintas bidang dan peran. Bukan hanya dari peneliti, tetapi juga bersama knowledge, pemerintah, pembuat kebijakan dan implementer program di lapangan.

“Selain itu, penguatan kerjasama dan kolaborasi lintas disiplin ilmu juga sangat dibutuhkan untuk bisa keluar dari krisis pandemi Covid-19 ini. Semua itu harus disiapkan dengan baik lewat pemahaman yang selaras dan komunikasi yang jernih dari semua pihak yang terlibat,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, alumnus program beasiswa StuNed di Vrije Universiteit Amsterdam tahun 2016, Suci Anatasia, menyatakan dampak Covid-19 juga mempengaruhi pendidikan vokasi kesehatan di Indonesia, khususnya bidang ortotik prostetik. Karena pendidikan ortotik prostetik tidak hanya dipelajari di kelas. Pelajaran ini juga mayoritas dihabiskan dengan praktek Laboratorium dan klinik.

“Dengan sistem pembelajaran daring di saat pandemi, tentu saja hal ini tidak lagi dapat dilakukan. Sehingga beberapa modifikasi pembelajaran diterapkan untuk tetap menjaga capaian pembelajaran dan kompetensi mahasiswa. Untuk mengetahui bagaimana dampak dari pembelajaran daring ini, maka dilakukanlah evaluasi melalui survey terhadap pengajar dan mahasiswa Ortotik Prostetik,” ucapnya yang juga dosen di jurusan Ortotik Prostetik Poltekkes Kemenkes Jakarta 1.

Dia menjelaskan, dari hasil survei yang dilakukan terhadap 537 mahasiswa Jurusan Ortotik Prostetik Poltekkes Jakarta 1 dan Poltekkes Surakarta. Hasilnya, semua responden tidak setuju dengan pernyataan bahwa dengan pembelajaran daring, keterampilan dan kompetensi praktek dalam bidang ortotik prostetik dapat tercapai dengan baik dan efektif.

“Hal ini karena dalam Pendidikan vokasi, khususnya ortotik prostetik pembimbingan dan praktek yang dilakukan secara langsung merupakan kunci keberhasilan pencapaian kompetensi mahasiswa. Sehingga mahasiswa mengalami kurangnya waktu untuk mengasah keterampilan praktek di laboratorium dan klinik. Belum lagi kendala teknis, seperti koneksi internet dan kurangnya kemampuan literasi digital pengajar,” tutupnya. (eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button