Kritik Tingginya Harga Avtur di Indonesia oleh Pengamat Penerbangan

Kritik Tingginya Harga Avtur di Indonesia oleh Pengamat Penerbangan. foto : dok onesolution.pertamina.com

JagatBisnis.com – Pengamat penerbangan Alvin Lie mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dampak tingginya harga bahan bakar minyak untuk pesawat atau Avtur di Indonesia. Salah satu akibatnya, menurut Alvin, adalah keputusan Qatar Airways untuk menghentikan penerbangannya ke Bandara Kualanamu, Medan.

“Harga Avtur di Indonesia memang sangat mahal. Salah satu alasan Qatar Airways menghentikan penerbangan ke Kualanamu adalah karena harga Avtur yang terlalu tinggi,” ujar Alvin, Kamis (4/7).

Alvin menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan harga Avtur di Indonesia menjadi tinggi. Pertama, kewajiban Pertamina untuk menyediakan Avtur di bandara-bandara terpencil menyebabkan biaya angkut dan penyimpanan tidak sebanding dengan volume penjualan, sehingga membutuhkan subsidi silang dari pemerintah.

Baca Juga :   Sandi Bantah Temuan KPPU, Monopoli Avtur Bukan Penyebab Tiket Pesawat Mahal

Kedua, harga Avtur dikenai Pajak Pertambahan Nilai (PPN) sebesar 11% untuk penerbangan domestik, sementara untuk penerbangan internasional, PPN tersebut dibebaskan.

“Ketiga, meskipun pemerintah membuka peluang bagi penyedia Avtur selain Pertamina, mereka harus ikut menyuplai ke bandara-bandara di pelosok. Namun, syarat ini hanya berlaku untuk lima bandara besar seperti Soekarno-Hatta, Juanda, Denpasar, Sultan Hasanuddin, dan Kualanamu,” tambah Alvin.

Alvin juga mencatat bahwa harga Avtur termurah terdapat di Bandara Soekarno-Hatta dan Batam, sementara di Bandara Halim Perdanakusuma memiliki selisih harga yang signifikan dibandingkan dengan Bandara Soekarno-Hatta.

Baca Juga :   Kemenkeu: Tak Semua Barang dan Jasa Kena PPN

Menurut Alvin, semakin jauh jarak bandara dari Jakarta, harga Avtur tampak semakin mahal.

“Selain itu, BPH Migas juga mengutip persentase dari penjualan Avtur sebagai Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP), tanpa memberikan kontribusi yang nyata dalam penyediaan Avtur,” lanjutnya.

Sebelumnya, Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) menyoroti perlunya revisi kebijakan terkait Harga Eceran Tertinggi (HET) Avtur yang diatur dalam Keputusan Menteri ESDM Nomor 17 Tahun 2019.

Menurut Alvin, revisi tersebut perlu dilakukan untuk mengurangi biaya bahan bakar penerbangan dan berpotensi menghemat biaya hingga Rp 24,8 triliun dari tahun 2019 hingga 2023. Penghematan ini diharapkan dapat menurunkan harga tiket pesawat dalam periode yang sama.

Baca Juga :   Dampak Perubahan Iklim, Sepanjang 4 Tahun, Indonesia Bisa Tekor Rp544 Triliun

Namun demikian, Alvin mengakui bahwa harga Avtur di Indonesia masih lebih tinggi dan kurang kompetitif dibandingkan dengan negara lain seperti Singapura, di mana terdapat 5-6 penyedia Avtur yang menjadikan distribusi lebih efisien dan harga lebih terjangkau.

Kritik yang disampaikan oleh Alvin Lie menyoroti kompleksitas faktor yang mempengaruhi harga Avtur di Indonesia serta dampaknya terhadap industri penerbangan nasional. (Hky)

MIXADVERT JASAPRO