Awas! Sering Kerokan Bisa Bikin Infeksi Kulit

JagatBisnis.com –  Banyak orang Indonesia menganggap kerokan sebagai budaya pengobatan tradisional yang dilakukan secara turun temurun. Metode ini diyakini bisa mengatasi berbagai masalah kesehatan yang ringan. Memang, tak ada yang melarang kerokan. Secara medis pun, kerokan sah-sah saja dilakukan. Meski diperbolehkan, namun tetap disarankan untuk tidak terlalu sering kerokan setiap kali merasa tidak enak badan. Pasalnya, ada bahaya kerokan yang diam-diam mengintai.

Dokter spesialis penyakit dalam di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Sawah Besar, Jakarta Pusat, Andi Khomeini Takdir Haruni mengatakan efek samping kerokan yang paling umum adalah infeksi kulit. Infeksi bisa terjadi saat kerokan menyebabkan luka pada punggung atau anggota tubuh lain yang dikerok. Luka ini bisa terjadi karena aktivitas kerokan yang terlalu sering atau kasar.

“Karena kerokan bisa berisiko perlukaan. Makanya harus hati-hati, terlalu sering dikerok juga tidak boleh. Maka, disarankan untuk pelan-pelan menghindari kebiasaan kerokan saat badan terasa tidak enak,” katanya dikutip Senin (19/12/2022).

Baca Juga :   New York Nyatakan Darurat Kesehatan Cacar Monyet

Dia mengaku, sejauh ini belum ada bukti ilmiah jika kerokan bisa menjadi metode pengobatan tradisional yang efektif. Tubuh yang terasa enak setelah kerokan bisa jadi berasal dari sugesti dan pikiran sendiri.

Baca Juga :   4 Gejala Kanker Ovarium Ini Sering Disalahartikan

Hal yang sama tentang bahaya kerokan juga diungkapkan oleh dokter spesialis jantung dan pembuluh darah Vito Damay. Infeksi kulit menambahkan, infeksi kulit bisa terjadi jika alat kerokan yang digunakan tidak bersih atau steril. Apalagi, kulit adalah bagian terpenting sebagai pelindung pembuluh darah. Sementara kerokan biasanya dilakukan di bagian atas permukaan kulit. Kondisi ini tentu berisiko menimbulkan luka.

“Kalau terlalu sering, apalagi tanpa jeda, misal sampai seminggu sekali, jaringan kulit bisa rusak. Sehingga kulit tidak bisa melindungi bagian bawahnya, maka bakteri pun mudah masuk. Saat bakteri itu menginfeksi, luka pada kulit akan lebih sulit sembuh. Bahkan, bisa jadi luka berubah menjadi borok yang menyakitkan,” terangnya.

Baca Juga :   Pakar: Masyarakat Harus Konsisten Jalankan Prokes dan Jaga Imunitas

Untuk menghindari bahaya kerokan, Vito menyarankan, untuk memberikan jeda yang jauh. Jangan sampai kulit ini mendapatkan kerokan seminggu sekali. Makanya, lakukan kerokan dengan waktu jeda yang panjang. Paling tidak, satu tahun dua kali masih tidak apa-apa. (*/els)