Giliran Hong Kong Dilanda Gelombang Demonstrasi Anti-Lockdown

ilustrasi demo di Hong Kong

JagatBisnis.com Setelah menjalar dari satu ke kota lainnya di Cina daratan, giliran para mahasiswa Hong Kong meneriakkan sikap menentang aturan COVID-19 Cina yang dirasa begitu menyengsarakan. Protes dilakukan Senin (28/11) lalu, dengan seruan yang bahkan tidak pernah diduga sebelumnya, yakni meminta pengunduran diri Presiden Xi Jinping dan penentangan terhadap Partai Komunis Cina yang berkuasa nyaris mutlak.

Unjuk rasa menentang langkah-langkah ekstra ketat pemerintah Cina dalam penanggulangan COVID-19 itu telah menyebar ke beberapa kota selama akhir pekan. Unjuk rasa sendiri sebenarnya bisa berlangsung karena pihak berwenang melonggarkan beberapa peraturan, yang tampaknya untuk mencoba meredam kemarahan publik. Namun demikian pemerintah tidak menunjukkan tanda-tanda mundur dari strategi besar mereka dalam perang terhadap virus corona.

Pada Senin kemarin, tidak ada protes terjadi di Beijing maupun Shanghai. Tetapi sekitar 50 mahasiswa Chinese University of Hong Kong (CUHK) menggelar happening art, bernyanyi-nyanyi dengan syair berisikan penentangan terhadap pembatasan yang telah mengurung jutaan warga di rumah-rumah mereka. Seraya menyembunyikan wajah mereka untuk menghindari pembalasan dari apparat, para mahasiswa meneriakkan, “Tidak buat test PCR! Hidup kebebasan!”, “Lawan kediktatoran, jangan mau jadi budak!”

Baca Juga :   Selama Libur Lebaran, Moda Tranportasi Dilarang Beroperasi

Protes di universitas tersebut, juga demo serupa di tempat lain di Hong Kong itu menjadi protes terbesar di pulau itu dalam lebih dari satu tahun di bawah peraturan ketat pemerintah untuk menghancurkan gerakan pro-demokrasi di wilayah di mana warganya diakui sebagai warga Cina tetapi memiliki sistem hukum yang terpisah dari Cina daratan itu.

Baca Juga :   Pelaku UMKM Dukung Vaksinasi Tahap Kedua Demi Percepat Pemulihan Ekonomi

“Saya sudah lama ingin angkat bicara, tapi tidak bisa,” kata James Cai, 29 tahun dari Shanghai yang menghadiri demo di Hong Kong. Ia mengangkat selembar kertas putih kosong, simbol pembangkangan terhadap sensor yang meluas dari partai yang berkuasa. “Jika orang-orang di daratan tidak bisa mentoleransinya lagi, maka saya juga tidak bisa.”

Tidak jelas berapa banyak orang yang telah ditahan sejak protes dimulai Jumat lalu, akibat kemarahan atas kematian 10 orang dalam kebakaran di kota Urumqi di barat laut. Beberapa orang mempertanyakan apakah petugas pemadam kebakaran atau korban yang mencoba keluar diblokir oleh pintu yang terkunci, atau kontrol anti-virus lainnya.

Baca Juga :   Klaster Covid-19 di Perkantoran Melonjak, Ini Kata Satgas

Tanpa menyebutkan disebabkan protes, kritik terhadap Xi atau dampak kebakaran, beberapa otoritas lokal melonggarkan lockdown mereka pada Senin kemarin.

Pemerintah kota Beijing mengumumkan tidak akan lagi memasang gerbang untuk memblokir akses ke kompleks apartemen tempat infeksi ditemukan. “Jalur harus tetap bersih untuk transportasi medis, pelarian darurat, dan penyelamatan,” kata Wang Daguang, seorang pejabat kota yang bertanggung jawab atas pengendalian epidemi, menurut kantor berita resmi, China News Service. (tia)