UMKM Dapat Pulihkan Ekonomi Nasional di Masa Pandemi

JagatBisnis.com – Usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menjadi salah satu tulang punggung negara di tengah pandemi Covid-19. Sehingga menjadi bagian utama dari pemulihan ekonomi nasional. Karena geliat sektor ini bakal menentukan masa depan Indonesia yang terdampak pandemi.

“Apalagi, UMKM mampu menyerap tenaga kerja di tengah gelombang pemutusan hubungan kerja beberapa perusahaan akibat pandemi Covid-19. Penyerapan tenaga kerja di sektor UMKM hampir 34 persen. Sehingga UMKM menjadi bagian dari pemulihan ekonomi nasional,” Menteri Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (UKM), Teten Masduki saat webinar bertema “UMKM sebagai Tulang Punggung Ekonomi” yang diselenggarakan Indoposco, Senin (6/9/2021).

Dia menjelaskan, makanya pemerintah sudah menyiapkan beberapa program pemulihan ekonomi nasional, di antaranya subsidi bunga termasuk modal usaha UMKM yang belum naik level dan menyediakan pembiayaan murah dan restrukturisasi pinjaman. Karena bantuan bagi UMKM merupakan bagian dari program pemulihan ekonomi nasional. Apalagi penyerapan tenaga kerja pada sektor tersebut mencapai 97 persen. Dan 99 persen berada di usaha mikro.

“Makanya, tahun ini kredit usaha rakyat (KUR) meningkat 100 kali mencapai Rp253 triliun, dengan bunga 3 persen. Sedangkan, tahun lalu hanya Rp190 triliun. Jumlah UMKM dari 62 juta, sebanyak 99,6 persen diantaranya merupakan usaha mikro omsetnya tembus di bawah Rp2 miliar dalam setahun. Mereka masih bisa bertahan di masa pandemi dengan baik,” paparnya.

Menurut Teten, untuk mendukung pelaku UMKM bertahan di masa pandemi, pihaknya telah menyiapkan sejumlah regulasi. Agar pelaku UMKM bisa bertransformasi dari offline ke online (digital). Karena para pelaku UMKM harus bisa beradaptasi dengan sistem digital. Data dari asosiasi e-commerce saat ini UMKM yang sudah menggunakan digital mencapai 23,9 persen atau 15,2 juta UMKM. Padahal, lanjut, 10 tahun terakhir hanya 8 juta UMKM yang terhubung platform e-commerce.

“Tentunya peningkatan ini cukup signifikan. Karena dari 13 persen menjadi 23,9 persen. Ini akan terus kami percepat agar UMKM bisa terus beradaptasi dan bertransformasi ke digital. Sehingga mereka bisa melakukan adaptasi dan inovasi produk terhadap situasi market. Sebab, transformasi ini didorong oleh perilaku masyarakat yang berbelanja online saat ini. Kami akan bantu mereka pendampingan dan konsultasi untuk bertransformasi dari offline ke digital,” ulas Teten.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Lembaga Pengelola Dana Bergulir Komperasi, Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (LPDP-KUMKM) Supomo mengungkapkan, penyaluran pinjaman badan Layanan Pengelola Dana Bergulir (LPDB) ke UMKM pada 2021 sebesar Rp1,015 triliun. Dengan rincian komersional Rp507 miliar, pembiayaan syariah Rp508 miliar dengan jumlah total mitra 121. Total akumulasi penyaluran dana bergulir 2008 hingga 2021 sebesar Rp13 triliun.

“Strategi pada 2021, melalui pendampingan akses pembiayaan dan peningkatan kapasitas koperasi. Program pendampingan fokus melalui skema kemitraan dan bekerja sama dengan inkubator wirausaha. Penyaluran PEN 2020 mencapai target, yakni Rp1,292 triliun. Dengan jumlah mitra koperasi 84 dan 118.783 UMKM,” tutup Supomo. (eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button