Survei Global Philips Ungkap Covid 19 Bikin Orang Susah Tidur

JagatBisnis.com –  Masyarakat di kawasan Asia-Pasifik dan di seluruh dunia, mengalami setidaknya satu atau lebih tantangan tidur sejak awal mula Covid-19, dengan hampir dua pertiga (62%) responden menyatakan pandemi telah berdampak secara langsung terhadap kemampuan mereka untuk tidur nyenyak.

Temuan ini diumumkan bersama beberapa temuan lainnya oleh Royal Philips, pemimpin global di bidang teknologi kesehatan, melalui studi tidur tahunannya yang ke-6 bertajuk, “Seeking Solutions: How Covid19 Changed Sleep Around the World”.

Pim Preesman, Presiden Direktur Philips Indonesia mengatakan, pandemi ini telah mengubah kehidupan sehari-hari kita, termasuk kebiasaan tidur kita. Banyak orang tidak mendapatkan tidur yang cukup dan berkualitas di malam hari karena berbagai tantangan, mulai dari stress masalah keuangan, tekanan dari keluarga, koneksi internet yang tidak stabil, bekerja dari rumah, hingga membantu anak sekolah online.

“Kualitas tidur sangat penting bagi produktivitas dan kesehatan kita secara menyeluruh, jadi jika kita memiliki masalah tidur, maka kita harus mengambil tindakan untuk mendapatkan diagnosis dan perawatan. Masalah tidur bisa jadi merupakan gejala serius dari kondisi-kondisi kronis lainnya terkait tidur,” katanya, melalui keteranganya, Kamis (18/3/2021).

Meski Indonesia belum termasuk dalam studi ini, Philips Indonesia memperingati World Sleep Day 2021 dengan mengingatkan kembali serta meningkatkan kesadaran akan pentingnya tidur berkualitas, terutama di tengah pandemi ini.Untuk itu, Philips Indonesia menggandeng salah satu dari sedikit sekali praktisi kesehatan tidur di Indonesia, Dr. Andreas Prasadja, RPSGT dari Snoring and Sleep Disorder Clinic di RS Mitra Kemayoran Jakarta, untuk mengungkap situasi kesehatan tidur di Indonesia.

Dr. Andreas mengatakan, telah terjadi perubahan komposisi masalah tidur pada pasiennya. Sebelum pandemi, 50% pasien yang datang ke dirinya mengalami insomnia, sementara 50% lagi sleep apnea. Sekarang, 70% pasiennya adalah pasien insomnia dan 30% sleep apnea.

“Kurang tidur dapat mengakibatkan produksi hormon stress yang meningkat, sehingga melemahkan sistem imun tubuh. Selain itu, bisa juga menyebabkan pembengkakan pada tubuh. Karenanya, mendapatkan tidur berkualitas menjadi lebih penting lagi di tengah pandemi ini,” katanya.

Perlu diketahui, setengah dari responden survei di APAC, pola tidur mereka telah berubah Ketika pandemi melanda – hampir seperempat (22%) menyatakan bahwa waktu tidur malam mereka berkurang setiap malam, dengan hanya 35% mengaku merasa cukup istirahat ketika bangun pagi, dan 44% mengalami kantuk di siang hari.

Mendapatkan tidur yang nyenyak hingga pagi merupakan tantangan bagi banyak orang. Responden studi mengalami kesulitan seperti terbangun di tengah malam (42%), kesulitan tertidur (33%), dan sulit untuk tetap tertidur (26%).

Kekhawatiran dan stres menjadi alasan utama mengapa orang dewasa di APAC kurang tidur (21%), disusul oleh penggunaan gawai seperti ponsel dan tablet (17%) serta lingkungan tidur (16%).

Masyarakat di Asia-Pasifik yang kerap terjaga akibat kekhawatiran/stress, mengatakan bahwa hal yang paling mereka khawatirkan adalah masalah finansial (54%), tanggung jawab pekerjaan (52%), kesehatan diri dan keluarga (38%), dan kondisi keluarga secara umum (34%). Hampir setengah (43%) juga khawatir dengan pandemi COVID-19 yang masih berlanjut.(HAB)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button