BRI Ungkap 5 Ancaman Kejahatan Siber dan Antisipasi

JagatBisnis.com – Perkembangan digital yang cepat memicu peningkatan kejahatan siber di perbankan. Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kemenkominfo) mencatat ada 5.000 laporan pengaduan tindakan penipuan (fraud) masuk setiap minggunya. Sehingga Indonesia sudah dalam situasi darurat kejahatan siber.

Menanggapi hal itu, Department Head Information Security Division PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk Irfan Syukur menjelaskan, ada lima kategori ancaman siber utama (cyber crime) dalam industri perbankan saat ini, yakni Mobile Devices, Digital Connectivity, Malware, Partnership dan API.

Berita Terkait

“Mobile Devices saat ini telah banyak dipergunakan seperti untuk sistem pembayaran dan lainnya. Meningkatnya jumlah dan jenis perangkat mobile dapat meningkatkan risiko serangan siber,” katanya pada acara Media & Public Discussion InfobankTalkNews bertema “Indonesia Darurat Kejahatan Siber: Bagaimana Perbankan Bersiap Sedia Untuk Menanggapi Serangan Siber?”, Selasa (9/11/2021).

Dia mengatakan, ancaman siber kedua, Digital Connectivity atau konektivitas digital dari peningkatan eksposur data penting melalui adopsi sistem digital dan interkonektivitas. Ketiga, Malware, kecanggihan semakin mudah diakses dan otomatis melampaui kemampuan pertahanan saat ini.

“Keempat, API, penggunaan vendor pihak ketiga yang menimbulkan risiko di luar kendali langsung. Dan kelima, kemitraan melalui konvergensi cyber komersial dan pemerintah,” bebernya.

Sementara itu, Head of Mandiri Institute Teguh Yudo Wicaksono menambahkan, investasi berkelanjutan atau Environmental, Social and Corporate Governance (ESG) menjadi salah satu isu penting bagi para investor asing yang ingin menanamkan modalnya. Karena setiap perbankan perlu menerapkan ESG dalam setiap aksi korporasinya.

“Peningkatan keamanan data dan privasi, serta keamanan produk finansial adalah bagian dari ESG. Maka, penerapan investasi berkelanjutan dengan meningkatkan keamanan siber bisa jadi poin plus bagi setiap pelaku industri jasa keuangan,” imbuhnya.

Menurut dia, beberapa catatan bagi perbankan, tidak saja investasi keamanan siber untuk meminimalisir operational risk. Tapi juga, meningkatkan nilai value dari ESG perbankan di mata investor, terutama masyarakat yang berinvestasi pada saham-saham perbankan.

“Oleh karena itu peningkatan keamanan siber merupakan upaya bersama. Selain pencegahan dari regulator dan provider atau perbankan, kesadaran masyarakat mengenai keamanan data juga perlu terus ditingkatkan,” tutup Teguh. (*/eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button