Air Laut Tinggi, Jakarta Terancam Tenggelam

JagatBisnis.com – Tingginya peningkatan muka air laut akibat perubahan iklim mengancam wilayah pesisir utara Pulau Jawa, termasuk ibu kota Jakarta. Bahkan, ancaman itu lebih besar tiga kali lipat. Tingginya air laut disebabkan, adanya penurunan muka air tanah.

“Selain Jakarta, wilayah yang juga terancam tenggelam adalah Jalur Pantura, Pekalongan, hingga wilayah yang berada lebih timur seperti Demak,” ungkap Utusan Khusus Gubernur Jakarta bidang Perubahan Iklim, Irvan Pulungan, dalam keterangan tertulis, Sabtu (16/10/2021).

Berita Terkait

Sementara itu, Pakar Iklim dan Meteorologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edvin Aldrian, menjelaskan, kenaikan muka air laut disebabkan melelehnya es di tiga wilayah utama di dunia karena perubahan iklim sehingga mengkhawatirkan semua lapisan es yang berada di permukaan tanah, di tiga pusat dunia, yaitu Kutub Selatan, Greenland, Denmark dan pegunungan Himalaya.

“Dikhawatirkan ketiga pusat lapisan es dunia itu akan mengalami pelelehan dan menambah muka air laut,” tandasnya.

Menurut Edvin, naiknya muka air laut dan turunnya muka air tanah, khusus untuk wilayah DKI Jakarta memiliki satu faktor lain yang menyebabkan wilayah ini lebih rentan tenggelam. Faktor tersebut adalah posisi sejumlah wilayah Jakarta yang memang sejak dulu berada di bawah permukaan laut.

“Sebanyak 40 persen tanah DKI Jakarta itu ada di bawah permukaan laut sejak dahulu secara geografis. Sehingga yang bisa dikendalikan dari ancaman tenggelamnga Jakarta adalah penurunan muka air tanah. Oleh karena itu penduduk Jakarta diminta menghentikan penggunaan air tanah,” imbuhnya.

Maka dari itu, tambahnya, pemerintah DKI Jakarta tahun ini mengeluarkan Peraturan Gubernur Nomor 52 dan 57 tentang tarif air minum DKI Jakarta, yang mengatur tentang subsidi air minum.
Melalui peraturan tersebut diharapkan masyarakat yang masih menggunakan air tanah untuk kebutuhan rumah tangga beralih ke air minum yang disediakan perusahaan pengelola air minum.

“Sehingga penurunan muka tanah yang disebabkan oleh penyedotan air tanah tidak semakin parah,” pungkas Advin. (*/esa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button