Ekonomi RI Pulih Lebih Cepat dari Krisis Covid-19, Sri Mulyani Sampai Tak Menyangka

jagatbisnis.com – JAKARTA. Ekonomi Indonesia pernah terhempas akibat pandemi Covid-19. Berbagai langkah dilakukan pemerintah untuk memulihkan ekonomi Indonesia saat itu.

Menteri Keuangan Sri Mulyani menceritakan bagaimana Indonesia bisa keluar dari krisis pandemi Covid-19. Ia menyampaikan, kala itu pemerintah harus mencari cara untuk mencegah penyebaran penyakit, mempercepat vaksinasi dan membantu ekonomi masyarakat yang ikut terdampak.

Sri Mulyani pun tak menyangka ternyata perekonomian Indonesia bisa pulih lebih cepat imbas krisis pandemi Covid-19. Hal ini juga yang membuat banyak negara lain kaget melihat kondisi perekonomian Indonesia.

Baca Juga :   Sri Mulyani: 60 Persen Negara Berpenghasilan Rendah Sulit Membayar Utang

“Ya saya salah karena tidak memakan waktu tiga tahun, hanya membutuhkan waktu dua tahun (untuk kembali pulih),” kata Sri Mulyani dalam diskusi 2024 Fitch on Indonesia, Rabu (15/4).

Dalam masa pandemi, pertama kalinya pemerintah memutuskan untuk memperlebar defisit APBN hingga di atas 3%. Adapun kebijakan tersebut dilakukan melalui penerbitan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perpu) Nomor 1 Tahun 2020.

Baca Juga :   Menkeu Sebut Jepang Tertarik Investasi di IKN Nusantara

Pelebaran defisit anggaran itu dilakukan paling lama hingga tahun anggaran 2022 berakhir. “Peran anggaran pemerintah sangat penting pada masa itu,” ujarnya.

Sri Mulyani juga bercerita, ketika aturan tersebut diberlakukan dirinya mendapatkan pertanyaan lembaga pemeringkat kredit.

“Tidak ada yang tahu, tapi saya katakan bahwa kita hanya akan memberikan izin tiga tahun kebijakan counter cyclicality dari anggaran kita, cukup untuk memulihkan perekonomian serta sosial dan ekonomi,” jelasnya.

Baca Juga :   Menkeu: Jaga Daya Beli dengan Bansos

Hanya dalam waktu singkat, lanjutnya, defisit APBN sudah bisa kembali normal, di mana pada tahun 2023 defisit APBN Indonesia kembali ke angka 1,65%.

“Indonesia termasuk negara yang memiliki kemampuan untuk mengkonsolidasikan fiskal tersebut sehingga kita mampu pulih dari pandemi dan melanjutkan momentum pertumbuhan hingga kuartal pertama tahun ini ketika BPS mengumumkan bahwa kami terus tumbuh pada 5,11%,” terangnya. (Hfz)