Penjualan Starbucks, Pizza Hut & KFC TW 1 2024 Turun, Dampak Boikot Mulai Terasa?

jagatbisnis.com – Jakarta. Perusahaan minuman dan makanan cepat saji seperti Starbucks, Pizza Hut dan KFC mengumumkan penurunan penjualan pada tiga bulan pertama tahun 2024. Apakah penurunan tersebut karena efek aksi boikot terhadap perusahaan asal Amerika terkait serangan Israel di Gaza, Palestina?

Aksi boikot terhadap perusahaan asal AS marak terjadi setelah kekejaman Israel di Gaza. Lebih dari 30.000 warga Gaza meninggal dunia akibat bom dan roket Israel. Sebagian besar korban meninggal adalah perempuan dan anak-anak.

Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga mengeluarkan fatwa haram atas produk-produk dari perusahaan AS yang diduga memberikan dukungan terhadap Israel. Meski tidak menyebutkan nama merek, tapi masyarakat sudah memahami merek yang dimaksud.

Diberitakan Kompas.com, Starbucks mengumumkan penurunan penjualan untuk kuartal pertama 2024 dan menyebabkan sahamnya turun 17 persen di Amerika Serikat (AS) pada Rabu (1/5/2024). Hal yang sama juga terjadi pada restoran cepat saji Pizza Hut dan KFC.

Namun, penurunan penjualan Star Buck, Pizza Hut dan KFC bukan semata-mata faktor aksi boikot. Dikutip dari CNBC, penurunan penjualan tersebut sebenarnya sudah diprediksi sejumlah ekonom yang memperkirakan konsumen akan mengurangi pengeluaran sebagai respons terhadap kenaikan harga dan suku bunga.

Baca Juga :   JK: Boikot Produk Israel Tak Mempan, Diplomasi Internasional Harus Ditingkatkan

Merek Yum, perusahaan induk dari Pizza Hut, KFC dan Taco Bell, menyalahkan badai salju yang terjadi di Januari 2024. Mereka juga berdalih adanya perbandingan yang sulit dengan kuartal pertama yang kuat pada 2023 sebagai penyebab buruknya kinerja merek-merek tersebut.

Kenaikan harga bahan makanan

Sebaliknya, persaingan untuk mendapatkan pelanggan akan semakin ketat karena para pengunjung menjadi lebih pemilih dengan uang yang dimiliki. Biaya makan di restoran cepat saji meningkat lebih cepat dibandingkan biaya makan di rumah makan pada umumnya.

Harga untuk restoran dengan layanan terbatas naik 5 persen pada bulan Maret 2024 dibandingkan periode 2023. Di sisi lain, harga bahan makanan justru meningkat lebih lambat.

Banyak perusahaan di sektor restoran dan sektor lainnya telah memperingatkan bahwa tekanan konsumen akan terus berlanjut. Selain itu, tekanan konsumen untuk memperhitungkan harga tidak hanya terjadi di AS saja, tetapi di seluruh dunia.

Baca Juga :   Starbucks Mesir Obral Diskon Besar-besaran, Terdampak Boikot Anti-Israel

CEO Starbucks, Laxman Narasimhan mengatakan bahwa pelanggan menginginkan lebih banyak variasi dan nilai pada kopi yang mereka beli.

Pelanggan mulai menjadi “pemilih”

Kelompok riset The Conference Board mengatakan, indeks kepercayaan konsumen di AS turun selama tiga bulan berturut-turut pada bulan April 2024. Konsumen yang ada di AS akan menghemat uang dengan cara membeli makanan saat jauh dari rumah, dilansir dari Reuters.

Selama enam bulan, 44,8 persen dari responden yang disurvei mengatakan mereka berencana mengurangi makanan di luar rumah untuk menghemat uang. Hal ini dimanfaatkan oleh perusahaan Domino’s Pizza untuk membuka kesepakatan baru dengan pemilik Burger King.

Kesepakatan ini meningkatan penjualan pada kuartal yang dilaporkan berkat program loyalitas dan promosi yang lebih tinggi. Hasil tersebut diperkuat dengan laporan bahwa spanjang 2024, saham Domino’s Pizza telah menguat sebesar 27 persen.

Sementara itu, Restaurant Brands dan McDonald’s masing-masing turun 6 persen dan 8 persen. Di sisi lain, saham Starbucks buka anjlok 22 persen.

Baca Juga :   JK: Boikot Produk Israel Tak Mempan, Diplomasi Internasional Harus Ditingkatkan

Strategi Starbucks, KFC, McDonald’s menghadapi pasar

Para eksekutif dari Starbucks, KFC, dan McDonald’s memberikan jadwal, rencana, dan strategi yang optimis untuk mengembalikan penjualan ke jalurnya. Misalnya, perusahaan Yum yang menaungi KFC mengatakan bahwa kuartal pertama akan menjadi kuartal terlemah pada 2024.

Sementara itu, McDonald’s berencana menciptakan menu bernilai nasional yang akan menarik pelanggan yang memperhitungkan uang mereka. Namun raksasa burger ini mungkin akan menghadapi penolakan dari para waralaba yang menjadi lebih blak-blakan dalam beberapa tahun terakhir.

Meskipun kesepakatan dengan waralaba akan mendorong penjualan, hal ini juga menekan keuntungan operator, terutama di pasar yang biaya operasionalnya sudah mahal.

Di sisi lain, Starbucks bersiap untuk merilis peningkatan aplikasinya yang memungkinkan semua pelanggan untuk memesan, membayar, dan mendapatkan diskon. Selain itu, Starbucks juga akan memproduksi berbagai jenis minuman terbaru untuk menarik perhatian pelanggan.

Narasimhan juga memuji keberhasilan lini minuman lavender yang diluncurkan pada Maret 2024 meskipun bisnis masih lesu pada April 2024. (Hfz)

MIXADVERT JASAPRO