Ekbis  

Kinerja Indo Tambangraya Megah (ITMG) Diprediksi Masih Tertekan pada 2024

Jagatbisnis.com – Kinerja PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) diproyeksikan masih tertekan pada 2024. Tekanan pada harga batubara menjadi pemberatnya.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas mengatakan, prospek kinerja ITMG diperkirakan akan turun dibandingkan tahun 2023. Ini sejalan dengan ekspektasi penurunan rata-rata harga jual (average selling price/ASP) batubara.

“Penurunan ASP dibandingkan tahun lalu bisa signifikan jika penguatan batubara saat ini lebih sentimen sesaat,” ujarnya kepada Kontan.co.id, Selasa (30/4).

Sebagai pengingat, tahun lalu ITMG mencatatkan ASP batubara sebesar US$ 113,1 per ton.

Sukarno memperkirakan ASP batubara ITMG sebesar US$ 79,8 per ton. Dus, pendapatan perseroan diperkirakan sebesar US$ 2,03 miliar atau turun 14,3% secara tahunan (YoY) dan laba bersih turun 36,2% YoY menjadi Rp 319 juta. Sehingga menghasilan margin laba bersih sebesar 15,7% atau turun dari tahun 2023 sebesar 21%.

Baca Juga :   Terimbas Tambang Ilegal, PT Timah (TINS) Cetak Rugi Bersih Rp 449,69 M di 2023

Analis Panin Sekuritas Felix Darmawan juga menilai serupa. Ia berpandangan, harga batubara sudah mencapai level keseimbangannya sehingga cenderung mendatar seiring dengan peningkatan penggunaan PLTU di China dan India.

Selain itu, tingkat cadangan energi China dan India relatif di posisi yang aman. Di tahun 2023, produksi batu bara China mencapai 4,6 miliar metrik ton, tumbuh 2,9% YoY.

Situasi yang mirip juga dialami oleh India. Bharat berupaya untuk menjaga keberlanjutan permintaan energi seiring dengan peningkatan permintaan dengan meningkatkan produksi batubara di 2023 yang tercatat sekitar 900 juta metrik ton, atau tumbuh 14,7% YoY.

Alhasil, kedua negara konsumen batubara terbesar itu berpotensi untuk mengurangi volume impor di tahun 2024. “Sehingga ASP ITMG saya perkirakan dalam rentang US$ 110 – US$ 120 per ton,” katanya saat dihubungi terpisah.

Baca Juga :   Harga Komoditas Tambang Menggila! Bea Keluar Naik, Dompet Makin Tipis?

Menurut Felix, katalis pendukung dari ITMG dari kenaikan produksi tahun ini. Perseroan menargetkan produksi dikisaran 19,5 juta ton – 20,2 juta ton, didukung operasionalnya tambang GPK dan TIS yang ditargetkan masing-masing hingga 1 juta ton dan 0,4 juta ton.

Untuk mendulang hal itu, ITMG menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar US$ 96,5 juta, naik dari realisasi 2023 sebesar US$ 45,1 juta. Secara porsi masih akan didominasi penggunaannya untuk pertambangan batubara hingga 68%, lalu disusul TRUST dan greenfield project masing sebesar 11% dan 9%.

Dominasi porsi capex pertambangan batubara disebabkan masuknya tambang GPK dari greenfield projects mulai tahun 2024. Peningkatan capex yang cukup signifikan tersebut disebabkan ada beberapa proyek di tahun 2023 digeser ke tahun 2024. Adapun sumber pendanaan akan berasal dari kas internal US$ 85,1 juta.

Baca Juga :   Bekas Tambang di Desa Terong Belitung Disulap Jadi Destinasi Wisata

Untuk volume penjualan, perseroan menargetkan 24,9 juta ton – 25,6 juta ton. Adapun penjualan dengan skema harga sebanyak 39% telah ditetapkan, 6% mengikuti indeks harga batubara, dan 55% selebihnya belum terjual.

“Patut dicermati, porsi belum terjual sebesar 55%, sementara rata-rata historis 34,8%, yang menginformasikan masih lemahnya permintaan batubara,” paparnya.

Karenanya, Panin Sekuritas juga memperkirakan pendapatan ITMG sebesar US$ 2,10 miliar. Sementara laba bersih mencapai US$ 363 juta.

Dengan begitu, Felix dan Sukarono merekomendasikan hold ITMG dengan target harga, masing-masing di Rp 28.000 dan Rp 28.700 per saham. “Naiknya target volume produksi serta penjualan, dan memiliki dividen yield yang atraktif menjadi sentimen positif bagi perseroan,” tutup Felix. (Hfz)

MIXADVERT JASAPRO