Teleskop NASA Tangkap Keberadaan Exoplanet Pertamanya

JagatBisnis.comTeleskop Luar Angkasa James Webb telah mengkonfirmasi menangkap exoplanet atau planet di luar tata surya. Itu merupakan exoplanet pertama yang berhasil ditemukan teleskop milik NASA tersebut.

Peneliti dari Laboratorium Fisika Terapan Johns Hopkins mengatakan, untuk pertama kalinya, tim yang dipimpin oleh Kevin Stevenson dan Jacob Lustig-Yaeger, mengidentifikasi exoplanet LHS 475 b setelah meninjau target dengan cermat dari Transiting Exoplanet Survey Satellite (TESS) NASA. LHS 475 b terletak 41 tahun cahaya di konstelasi Octans.

“emuan exoplanet ini tidak bisa lepas dari peran teknologi Near-Infrared Spectrograph (NIRSpec) yang diusung teleskop James Webb, yang mampu menangkap planet ekstrasurya hanya dengan dua pengamatan transit pada 31 Agustus 2022,” katanya dihimpun dari TechSpot, Sabtu (14/1/2023)

Baca Juga :   Pertama Kalinya Kondisi Bulan Membeku

Menurut dia, dari data, exoplanet tersebut merupakan planet terestrial seukuran Bumi yang berukuran 99 persen dari diameter Bumi. Diyakini planet tersebut berada di lokasi layak huni namun yang belum diketahui tim adalah apakah planet tersebut memiliki atmosfer atau tidak.

Baca Juga :   Robot Nanoracks Potong Bersih Sampah Baja di Luar Angkasa

Menurut salah satu peneliti di lab Fisika Terapan, Erin May, teleskop sangat sensitif sehingga dapat dengan mudah mendeteksi berbagai molekul. Tetapi belum dapat membuat kesimpulan pasti tentang atmosfer planet ini apakah atmosfer juga didominasi metana seperti yang terlihat di planet Titan.

“Teleskop James Webb lebih lanjut mengungkapkan bahwa exoplanet beberapa ratus derajat lebih hangat dari Bumi dan menyelesaikan orbit penuh hanya dalam dua hari. Itu lebih dekat ke bintangnya daripada planet mana pun di tata surya kita, di mana tempat Bumi bernaung,” terangnya.

Baca Juga :   2 Exoplanet Penuh Air wadah Bumi, Pakar Kata Potensi Ditinggali

Jika awan dapat terdeteksi, itu mungkin planet tersebut lebih mirip Venus dengan atmosfer karbon dioksida yang diselimuti awan tebal.

NASA mengatakan pengukuran yang lebih tepat akan diperlukan untuk menentukan apakah ada atmosfer karbon dioksida murni. (*/els)