Ini Cara Kerja Fomepizole, Obat Antidotum Gagal Ginjal Akut pada Anak

JagatBisnis.comKementerian Kesehatan (Kemenkes) sudah memesan obat penangkal racun (antidotum) gangguan ginjal akut pada anak yang terjadi akhir-akhir ini. Obat bernama Fomepizole itu dipesan langsung dari Singapora. Karena sebelumnya, obat ini sudah diberikan kepada 10 orang pasien yang dirawat di RSCM, Jakarta. Hasilnya, memperlihatkan hasil yang positif.

Fomepizole merupakan salah satu jenis obat yang digunakan untuk mencegah kontaminasi racun di dalam tubuh. Obat ini bekerja sebagai antidotum untuk seseorang dengan keracunan etilen glikol (EG) dan kerap digunakan bersamaan dengan hemodialisa atau cuci dara melalui injeksi intravena.

Lalu, bagaimana cara kerja obat Fomepizole terhadap penderita keracunan EG? Berikut ulasannya seperti dirangkum dari berbagai sumber, Minggu (23/10/2022).

Baca Juga :   Kemenkes Akan Meminta Saran Organisasi Profesi Soal Molnupiravir

Obat fomepizole adalah salah satu penghambat kompetitif alkohol dehydrogenase. Enzim dehidrogenase merupakan jenis enzim yang mengkatalisasi metabolisme etilene glikol dan metanol sehingga dapat menimbulkan toksik atau racun di dalam tubuh.

Dalam tahap awal, fomepizole dimetabolisme ke glucoaldehyde yang memicu oksidasi menjadi glycolate dan oxalate yang bertanggung jawab dalam respon asidosis metabolik dan gangguan ginjal pada keracunan etilene glikol.

Baca Juga :   PeduliLindungi Dituding Langgar HAM, Begini Jawaban Kemenkes

Metanol pertama-tama di metabolisme menjadi formaldehyde dan beroksidasi menjadi asam formik. Asam formik merupakan zat asam yang memicu asidosis metabolik dan gangguan penglihatan pada keracunan metanol. Fomepizole akan diberikan secara injeksi melalui akses intravena. Prosedur ini akan dilakukan oleh tenaga kesehatan di rumah sakit.

Selama menjalani prosedur, pasien akan diberikan obat-obatan lain atau cairan intravena sebagai bagian dari terapi. Selain itu, pemantauan ketat akan dilakukan terhadap pernapasan, tekanan darah, kadar oksigen, fungsi ginjal, dan tanda-tanda vital lainnya.

Baca Juga :   98 Persen Kasus Omicron di Indonesia dari Luar Negeri

Pasien juga akan melakukan pemeriksaan urine dan darah secara rutin ketika mendapatkan terapi ini. Sebuah alat bernama elektrokardiografi (EKG) dipasangkan untuk memantau fungsi jantung. Pengawasan lainnya yang akan dilakukan adalah efek dari keracunan, seperti gangguan pada penglihatan, masalah pernapasan, atau perubahan dalam berkemih. (*/esa)