Waduh, Ada 400 Bahasa Indonesia Terancam Punah

JagatBisnis.com – Sebanyak 400 bahasa Indonesia terancam punah. Kepunahan bahasa di Indonesia disebabkan oleh berbagai faktor. Salah satunya, jumlah penutur bahasa daerah semakin sedikit dan tidak ada perhatian pemerintah.

Peneliti Utama bidang Bahasa dan Tradisi Lisan di Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Katubi (Obing) mengatakan jumlah bahasa yang ada di Indonesia masih belum diketahui secara pasti. Namun, beberapa penelitian menyampaikan jumlah bahasa di Indonesia lebih dari 700 bahasa.

“Adapun bahasa Indonesia yang paling terancam adalah bahasa yang ada di wilayah Indonesia tengah dan timur. Di kawasan itu terdapat sekitar 400 bahasa. Dari hasil penelitian terkini, menunjukkan bahasa-bahasa tersebut terancam punah,” ujar Obing dalam webinar, Selasa (4/5/2021).

Dia menjelaskan, faktor yang berkontribusi terhadap terancam punahnya bahasa beragam, seperti penaklukan, pagebluk, tekanan ekonomi dan kontak bahasa. Selain itu, budaya yang meleburkan bahasa dan politik bahasa. Faktor lainnya adalah sikap negatif atau bahkan sikap acuh tak acuh terhadap bahasa yang berpotensi terancam punah, hingga sikap dan loyalitas dari komunitas bahasa itu sendiri.

“Ada dua kerugian utama jika bahasa punah, yakni bagi komunitas dan ilmu pengetahuan. Bagi komunitas, punahnya bahasa sama dengan hilangnya identitas budaya. Kemudian, punahnya bahasa sama dengan punahnya ungkapan artistik dalam tradisi,” tuturnya.

Bagi komunitas, lanjut dia, punahnya bahasa juga sama dengan punahnya pengetahuan budaya. Karena bagj dunia ilmu pengetahuan, punahnya bahasa merupakan ancaman terhadap pemahaman kita tentang sejarah manusia, kognisi manusia, dan dunia hayati.

“Terkait persoalan itu, maka perencanaan berbasis komunitas sangat diperlukan untuk pandangan jangka panjang tentang proses antargenerasi. Selain itu perlu juga klarifikasi ideologi dan komitmen. Karena tidak ada bahasa yang tidak dapat diapa-apakan sama sekali atau selalu ada sesuatu yang bisa dilakukan untuk bahasa yang dalam kategori terancam punah,” bebernya.

Menurutnya, isu bahasa juga merupakan isu manusia dan komunitasnya. Sehingga perencanaan bahasa berbasis komunitas harus terpusat pada manusia dan komunitasnya. Jadi, bukan pada bahasa tersebut.

“Kalau berbasis pendidikan, tidak semua revitalisasi bahasa harus melalui muatan lokal. Program revitalisasi bahasa bisa dilakukan berbasis keluarga di rumah. Karena, secara ekologi belum tentu cocok. Apalagi, teknologi yang ada saat ini bisa dimanfaatkan untuk mendokumentasi bahasa,” tutup Obing. (esa/*)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button