Usai Divaksin Masih Bisakah Tertular COVID-19?

JagatBisnis.com –  Walaupun sudah menemukan vaksin, seseorang masih mungkin terkena COVID- 19. Tetapi, periset mengatakan indikasinya dapat sedikit berlainan.

Para periset di Kings College London menguak apa yang wajib diduga dari COVID- 19 setelah vaksinasi, termasuk siapa yang sangat beresiko.

Walaupun masih dapat terkena COVID- 19, tetapi vaksin memotong resiko mengalami penyakit yang parah, dirawat di rumah sakit sampai kematian, dan mungkin menolong mengakhiri penyebaran.

Diambil dari laman The Sun, para periset itu mengakulasi informasi dari ribuan orang di Inggris menggunakan aplikasi ZOE Covid Symptom Study. Dari 1, 1 juta pengguna aplikasi yang menemukan vaksin takaran awal, hampir 2. 400( 0, 2 persen) melaporkan hasil uji positif COVID- 19.

Dan, dari setengah juta yang sudah menemukan 2 takaran vaksin, 187( 0, 03 persen) positif COVID- 19 satu minggu setelahnya. Mereka yang sudah inokulasi lebih sedikit melaporkan gejala apapun dari COVID- 19.

Hampir 70 persen beresiko lebih kecil mengalami meriang dibanding mereka yang tidak divaksin dan 55 persen lebih kecil beresiko mengalami keletihan. Sementara gejala kehabisan indera penciuman, panas dingin, dan sakit kepala seluruh resikonya menyusut sampai hampir setengah.

Orang yang sudah divaksin dan mengalami COVID- 19 melaporkan kadar gejala ketat nafas, sakit kuping dan kelenjar bengkak yang serupa. Tetapi, terdapat satu gejala yang dengan cara penting lebih biasa pada orang di dasar 60 tahun yang tidak lumayan asian terkena COVID- 19 setelah vaksin.

Bersin jadi gejala yang 24 persen lebih biasa terjadi pada kelompok umur ini. Gejala ini tidak sempat diisyarati sebagai peradangan COVID- 19, biasanya lebih kerap nampak pada pengidap flu ataupun pilek.

” Kita tidak mengetahui informasi sebelumnya kalau bersin lebih biasa pada penderita yang sudah divaksin dari penyakit respirasi yang lain. Tetapi ini gejala yang lumayan dikenali bagus pada peradangan respirasi ataupun alergi yang dipicu iritasi mukosa nasal,” ucap periset.

Para periset menjelaskan kalau orang yang memiliki alergi bersin karena bakteri dengan kilat mengaktifkan sistem kebal mereka. Mereka memiliki filosofi kalau mereka yang sistem imunnya sudah prima kepada COVID- 19 karena vaksin mungkin akan bereaksi serupa.

Para periset pula menegaskan kalau bersin dapat jadi gejala yang wajib diwaspadai di era depan karena dapat menunjukkan seseorang membuat virusnya.

” Bersin menghasilkan aerosol, berpotensi berarti untuk penyebaran virus di masa sesudah vaksin,” demikian keterangan hasil riset itu.(ser)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button