Triple Disruption, Semangat Kurban dan Ibadah Haji

JagatBisnis.com – Kondisi ekonomi bangsa Indonesia memang tidak sedang baik-baik saja. Bukan cuma Indonesia, sebagian besar negara di dunia mengalami masalah serupa. Hal ini bisa dilihat dari menurunnya daya beli, melambatnya pertumbuhan ekonomi hingga dunia usaha yang semakin lesu akhir-akhir ini.

Beberapa waktu lalu, kita disuguhi fakta bahwa Bank BNI 46 akan menutup 96 cabangnya dalam waktu dekat ini. Beban operasional yang besar untuk merawat aset dan pegawai membuat bank plat merah ini megap-megap kehabisan nafas. Padahal jika kita lihat secara kasat mata, BNI adalah bank dengan nasabah yang sangat banyak, bank sehat yang menjadi andalan transaksi bagi sebagian besar masyarakat Indonesia. Belum kering lidah berdecak atas akan ditutupnya 96 cabang BNI, muncul lagi sebuah peristiwa tutupnya sebuah swalayan dalam naungan Hero Supermarket yakni Giant. Pada akhir Juli tahun ini, Giant akan menutup seluruh gerainya. Lagi-lagi, karena beban yang menghimpit sementara pemasukan sedikit, aset besar dan banyak, beban makin mencekik, akibatnya usaha tutup. Lalu, tak lama kemudian muncul kabar, Garuda Indonesia akan mengurangi setengah armadanya, bahkan sudah menawarkan pensiun dini bagi karyawannya. Beban utangnya sudah 70 trilyun dan akan semakin membengkak jika tak segera diputuskan solusinya.

Beberapa pengamat bilang bahwa salah satu sebab usaha dengan aset besar dan banyak kompak nyaris gulung tikar karena adanya triple disrupsi. Sebuah kebiasaan baru yang mendobrak budaya lama dan bukan cuma satu, melainkan tiga, yakni Digital Disruption, Milenial Disruption, dan Pandemic Disruption. Ketiga disrupsi ini menggerus cara-cara konvensional, tak membutuhkan banyak aset besar di setiap sudut, simple dan memaksa beradaptasi. Belanja atau apapun segalanya sekarang serba digital, tokonya ada dalam genggaman. Sementara perilaku milenial dan gaya hidupnya jelas jauh berbeda dengan masa-masa non digital. Masih beradaptasi dengan dua tradisi baru yang mengubah drastis pola hidup dan transaksi, tiba-tiba muncul Pandemi yang memaksa manusia melakukan kebiasaan baru, normal baru yang jauh berbeda dengan sebelumnya. Gempuran 3 disrupsi ini membuat kocar-kacir siapa saja yang belum siap menyesuaikan diri dengan situasi dan mengikuti arah kebiasaan baru ini.

Semangat Kurban dan Ibadah Haji

Setiap tantangan sebenarnya menyimpan peluang jika bisa kita sikapi dengan baik. Seperti halnya triple disruption di atas. Dalam kaitannya dengan kurban, bahkan budaya-budaya dan kebiasaan baru serba ingin mudah di atas kita bisa fasilitasi dengan tidak mengurangi nilai dari ibadah kurban itu sendiri.

Kurban adalah ibadah yang dianjurkan bagi umat Islam dengan kemampuan keuangan yang baik. Ibadah ini dicontohkan oleh Nabi Ibrahim Alaihi Salam ketika diperintahkan untuk menyembelih Nabi Ismail Alaihi Salam yang kemudian dengan ketakwaaannya keduanya ikhlas melakukan perintah ini, meski akhirnya Allah SWT ganti Nabi Ismail dengan Domba gibas yang besar dan sehat.

Kurban sekarang, sangat mudah sekali jika kita tidak memiliki waktu, khawatir dengan kondisi, sementara ingin berkurban. Efek Digital Disruption bisa memudahkan para pekurban. Memesan kurban di lembaga-lembaga yang sahabat percaya sekarang cukup dengan klak-klik saja tanpa harus repot-repot datang ke kandang dan bayar tunai, Kuban bisa bayar lewat digital dengan pilihan beragam. Tak masalah, karena pemesanan dan pembayarannya saja yang digital, kurbannya tetap disalurkan dalam bentuk domba, kambing atau sapi ke lokasi yang membutuhkan.

Gaya hidup milenial, dimana segala serba ingin dalam genggaman tanpa mau ribet ini itu, membuat kurban mestinya lebih bergairah dan meningkat setiap tahunnya. Meski gaya hidup milenial sekarang modern, namun dalam sisi keagamaan anak-anak milenial ini sangat baik perkembangannya. Bagi milenial sekarang, berbagi sudah menjadi kebutuhan dan gaya hidup. Faktanya, jika tokoh milenial Galang bantuan, jumlahnya pasti fantastis.

Pandemi Disruption, memaksa kebiasaan baru dalam bingkai normal baru, menjadi gaya hidup sehari-hari. Bahkan akibat Pandemi, ekonomi juga kocar-kacir, banyak usaha gulung tikar bahkan dengan tiga fenomena di atas, berapa ribu orang menganggur. Banyak orang yang kesusahan saat Pandemi ini masih cukup tinggi paparannya. Namun, kurban menjadi peluang bagi yang stabil ekonominya untuk menolong. Pertama, menolong peternak agar berpenghasilan dan mendapat berkah dari ibadah kurban, sekaligus menggerakkan perputaran ekonomi dibidang peternakan. Kedua, menolong sesama yang membutuhkan, yang sulit makan enak agar bisa menikmati lezatnya daging, sate dengan kandungan gizi yang baik dan fresh. Maka, kesempatan ini baik sekali diambil bagi yang mampu untuk berkurban.

Apalagi, beberapa hari ini ramai dibahas tentang gagalnya jemaah haji Indonesia untuk berangkat tahun ini akibat kuota yang tidak ada, efek Pandemi. Jika haji belum Allah SWT ridhoi, tak ada salahnya kita tunaikan saja dulu ibadah kurban di dalam negeri untuk bantu sesama selama Pandemi. Meski tak bisa menggantikan pahala haji, meski bukan pengganti naik haji, setidaknya dengan berkurban kita masih bisa berbagi, menunaikan salah satu yang Allah SWT anjurkan dalam setahun sekali, meski bukan rukun Islam.

Semoga segera ada jalan, semoga wabah cepat berakhir dan semoga kita diberi kemampuan untuk berkurban.(srv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button