Ternak Warga di Agam Dimangsa Harimau Sumatera

JagatBisnis.com – Warga Cubadak Parafin, Kenagarian Tigo Gedung Lawang, Kecamatan Matur, Kabupaten Agam, Sumatra Barat, sejak Senin petang kemarin gempar setelah seekor Gembong Sumatera dikabarkan melanda kerbau kepunyaan masyarakat setempat.

Gedung Pelestarian dan Pangkal Energi Alam (BKSDA) Resor Agam, meninjau posisi peristiwa untuk melakukan pengenalan dan penindakan bentrokan itu. Informasi sementara, terdapat 3 kerbau yang jadi korban serbuan Gembong Sumatera itu. Satu akhir antara lain ditemukan mati.

“ Informasi kita sementara terdapat 3 akhir kerbau yang diserbu. Satu mati dan 2 akhir luka- luka. Di sekitar posisi peristiwa, kita pula menemukan jejak- jejak kaki Gembong Sumatera berusia,” tutur Kepala Gedung Pelestarian dan Pangkal Energi Alam Resor Agam, Ade Putra, Selasa 9 Maret 2021.

Ade menjelaskan, posisi bentrokan ini lumayan jauh dari pemukiman masyarakat. Dengan melihat topografi posisi dan mengikuti keterangan sebagian masyarakat setempat, untuk sementara grupnya beranggapan bentrokan terjadi dampak terdapatnya kelengahan dari pemilik peliharaan yang terencana membebaskan puluhan akhir kerbau itu di zona pinggiran hutan.

Padahal, di posisi peristiwa itu pula ialah salah satu tempat ataupun lingkungan gembong Sumatera dan binatang buas dilindungi yang lain.

“ Jika kita merumuskan sementara, terdapat faktor kelengahan dari pemilik peliharaan. Sekitar 20 hingga 30 akhir kerbau itu dilepaskan di pinggiran hutan. Kerbau dipelihara tanpa dikandang. Posisi ini jauh dari pemukiman,” ucap Ade.

Bagi Ade, dari hasil pengenalan sementara, pula disimpulkan jika Gembong Sumatera ini pada awalnya mencari babi. Pada saat berbarengan, binatang buas dilindungi yang memiliki julukan latin Phantera Tigris Sumatrae ini melihat sekumpulan kerbau itu.

Akhirnya, 3 akhir kerbau kepunyaan masyarakat yang jadi korban. Terbebas dari itu tutur Ade, grupnya saat ini sedang berusaha menanggulangi bentrokan ini supaya tidak membengkak dan berkepanjangan.

“ Saat ini kita sedang melakukan penghalauan. Kita pula memohon warga yang memiliki peliharaan untuk tidak membebaskan peliharaan kepunyaannya di pinggiran hutan,” tutur Ade Putra.(ser)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button