Taman Nasional Baluran, Seperti Itukah Afrika?

jagatBisnis.com – Sekitar tahun 2017, saya berkesempatan mengunjungi Taman Nasional Baluran di Kabupaten Situbondo, Jawa Timur, yang mendapat julukan Africa van Java. Sebelum berangkat, julukan itu terus terngiang-ngiang dalam ingatan dan akhirnya timbul banyak pertanyaan dalam kepala ini.

Apakah seperti itu hutan Afrika? Apakah orang yang pertama kali menyebutnya sebagai Afrika di Pulau Jawa itu pernah pergi ke Afrika? Atau jangan-jangan orang itu hanya latah saja dan berbekal potongan video dari National Geographic di Taman Nasional (TN) Amboseli, Kenya, lantas menyamakan TN Baluran dengan TN di Afrika? Benarkah TN Baluran seperti TN di Afrika atau jangan-jangan TN di Afrika yang seperti di TN Baluran? Atau jangan-jangan keduanya tidak mirip sama sekali?

Sedikit pemandangan dari Taman Nasional Baluran

Pertanyaan-pertanyaan itu begitu menggangu. Jujur, belakangan ini saya mulai risih ketika beberapa tempat di Indonesia mulai dibandingkan atau coba disamakan dengan destinasi di negara lain. Africa van Java, Swiss van Aceh, Maldives-nya Indonesia, dan beberapa julukan lainnya yang ‘tidak jelas’. Jangankan membandingkan destinasi yang berada di luar negeri dengan yang ada di Indonesia, mencoba menyamakan sesama destinasi di Indonesia saja saya sangat kesal.

Sombori dikatakan sebagai Raja Ampat-nya Sulawesi, Ulo Kasok disebut sebagai Raja Ampat-nya Sumatera, atau bahkan belakangan ini sempat muncul istilah ‘Bali Baru’. Kenapa harus ada embel-embel destinasi lain yang sudah lebih terkenal di depan nama suatu destinasi yang (mungkin) baru muncul atau lebih baru dari padanya? Kenapa tidak mencoba membuat branding sendiri? Apakah harus menempelkan nama sebuah destinasi yang sudah lebih terkenal untuk membuat destinasi lainnya menjadi terkenal juga?

Menyematkan nama destinasi A di depan nama destinasi B (contoh: Maldives-nya Indonesia) tidak serta merta membuat destinasi B akan sejajar atau nyaris sejajar dengan destinasi A. Justru hal tersebut membuat saya merasa destinasi B kekurangan rasa percaya diri dan akan terus berada di bawah bayang-bayang destinasi A. Siapa tahu justru destinasi B lebih bagus dari destinasi A, kan? Seorang teman pernah berkata dengan tegas, “Kalau Baluran itu Afrika-nya Indonesia, lantas kalian mau bilang hutan Afrika itu yang terbaik dan Indonesia punya KW supernya, gitu?”

Jika destinasi wisata punya mulut untuk berbicara, mungkin destinasi wisata itu akan protes kepada manusia, “Kenapa sih saya harus dibandingkan dengan tempat lain?”

Manusia saja tidak suka dibandingkan dengan manusia lain, kan? Saya yakin LeBron James pun menolak bila bila diberi julukan The New Michael Jordan. LeBron James, ya LeBron James. Michael Jordan, ya Michael Jordan. Dari segi piala yang didapat, mungkin LeBron James belum bisa menyamai koleksi 6 piala yang dimiliki oleh Michael Jordan. Namun dari segi total poin selama di NBA, jumlah poin LeBron James sudah jauh mengungguli Michael Jordan.

Kalau sudah seperti itu, apakah masih layak membandingkan Michael Jordan dengan Lebron James? Kalau julukan The New Michael Jordan tetap disematkan pada LeBron James, apakah itu bukan salah salah satu bentuk penghinaan kepada LeBron James, sebab dalam julukan itu James berada dalam bayang-bayang Jordan, sedangkan dalam total poin James sudah mengungguli Jordan?

Saat saya tiba di TN Baluran, lebih tepatnya di Savana Bekol, saya melihat pepohonan yang kering dan berjarak dengan tanahnya yang coklat dan pecah-pecah. Sedikit rerumputan dengan warnanya yang keemasan tumbuh di atas tanah yang pecah-pecah itu. Bagi saya, area ini mirip di Pulau Timor (Karena saya belum pernah ke Afrika). Di Pulau Timor ini ada beberapa daerah yang seperti ini. Mirip dari segi tampilan saja ya, namun tidak dengan flora dan atau fauna yang hidup di sana. Lalu apa bisa saya sebut Savana Bekol sebagai Savana Timor di Pulau Jawa? Rasanya sih tidak. Jika memberi julukan seperti itu, saya tidak tahu apakah saya ‘menghina’ Savana Bekol atau Savana di Pulau Timor.

Semua destinasi itu unik. Semua destinasi itu spesial. Tidak perlu rasanya memberi julukan atau label yang terkesan memberi bayang-bayang suatu destinasi kepada destinasi lainnya. Mungkin memang ada kemiripan, tapi bukan berarti sama atau layak disamakan. Memberi label atau julukan Afrika kepada TN Baluran itu bagi saya mencoba menyamakan TN Baluran dengan TN di Afrika, begitu pula dengan julukan yang sempat disematkan untuk destinasi lainnya.

Baluran, ya Baluran. Kalian boleh saja menyebut TN Baluran sebagai TN terbaik atau TN di Afrika yang terbaik. Namun bila itu kalian lakukan dengan merendahkan destinasi lainnya (contoh: TN Baluran tidak lebih keren dari TN di Afrika), rasanya itu juga kurang pas. Buat saya, TN Baluran merupakan salah satu taman nasional terindah di timur Jawa dan kalau ada kesempatan, kalian juga harus pergi ke sana 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button