Pengguna Smartphone Diminta Uninstall Google Chrome

JagatBisnis.com  –  Sebuah laporan memicu gelombang ajakan untuk menghapus Google Chrome di perangkat smartphone, Android dan iPhone. Aplikasi Google Chrome di smartphone perlu dihapus atau uninstall demi untuk keamanan data.

Menanggapi hal itu, ahli keamanan Zak Doffman mengulas kembali isu tentang keamanan data pengguna, yang terancam oleh aplikasi browser populer milik Google itu.
Karena Google Chrome memanen data pribadi yang sensitif tanpa diketahui oleh para pengguna. Tapi default keamanan tersedia di perangkat iOS seperti iPhone. Setidaknya penggunaan Chrome di iPhone lebih aman dibanding penggunaan di perangkat Android.

“Maka tak heran kalau, beberapa waktu lalu Chrome mendapat kecaman karena menunda penghapusan cookie pelacakan pihak ketiga. Hal itu dinilai menjadi titik lemah dari keamanan data pribadi pengguna,” katanya, seperti dikutip dari Forbes, Sabtu (13/11/2021).

Laporan Forbes menulis, pada bulan lalu, Facebook mendeteksi pergerakan pengguna iPhone. Atas laporan itu menambah lekat citra sebagai pemanen data pribadi paling rakus di dunia. Tetapi, Google Chrome menjadi ancaman yang besar dari Facebook untuk urusan pengolahan data pribadi pengguna.

“Ini merupakan mimpi buruk terbaru bagi privasi data. Kenyataannya adalah sementara Facebook/Meta bertindak sebagai penangkal petir, Google adalah ancaman yang jauh lebih besar terhadap privasi. Karena saat Facebook disebut telah mengumpulkan data pribadi pengguna untuk kebutuhan perusahaan, Google Chrome dituding mengumpulkan data untuk kebutuhan dari pihak lain,”
bunyi laporan tersebut.

Sementara itu, peneliti teknologi Tommy Mysk menyebut Google Chrome dengan otoritas penuh mengendalikan sensor gerak pengguna, tak seperti Safari milik iOS. Sensor gerak dapat diakses oleh semua situs web di Android/Chrome secara default. Sedangkan, Safari/iOS melindungi akses dengan izin.

Dengan tudingan tersebut Google memberikan pembelaan terhadap munculnya isu keamanan data pengguna. Menurut perwakilan Google, pihaknya sengaja membatasi resolusi sensor gerak di Chrome, dan sejak 2019. Karena pihaknya memiliki kontrol yang memungkinkan pengguna untuk memblokir situs web agar tidak mengakses sensor gerak perangkat sama sekali.

“Namun demikian peneliti tetap menemukan perbandingan keamanan sensor gerak antara Google Chrome dan Safari. Secara default, Chrome mengizinkan pelacakan sensor gerak. Sedangkan Safari tidak,” tutupnya. (*/esa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button