Pandemi Bikin Kualitas dan Kuantitas Tidur Masyarakat Memburuk

JagatBisnis.com –  Selama pandemi, kualitas dan kuantitas tidur masyarakat memburuk. Hal tersebut terlihat dari selama pandemi ini sebanyak 22 persen orang menyatakan kualitas tidurnya memburuk akibat kejadian terkait COVID-19 yang menyebabkan kecemasan.

Kualitas dan kuantitas tidur sangat penting karena dapat memengaruhi sistem imun, mood, kebiasaan makan, kesehatan kulit, hingga working memory.

“Dibandingkan dengan kuantitas tidur, kualitas tidur lebih penting karena lebih dominan dalam mempengaruhi kesehatan secara keseluruhan,” kata Ketua Umum Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI), Dr. (Cand) dr. Inggrid Tania, M.Si, Jakarta, Selasa, (16/11/2021).

Untuk mendapatkan kuantitas tidur yang baik bagi kebanyakan orang dewasa membutuhkan 7 hingga 9 jam tidur di malam hari. Sedangkan kualitas tidur mengacu pada seberapa baik kualitas tidur malam.

“Tanda kita memiliki kualitas tidur yang baik adalah tidak terbangun di tengah malam atau hanya terbangun 1 kali, dan dapat tidur kembali dalam waktu 20 menit setelah terbangun,” tambahnya.

Banyak cara yang bisa ditempuh untuk memperbaiki kualitas tidur, antara lain dengan cara mengonsumsi herbal.

Kombinasi passion flower, valerian, dan jahe menghasilkan efek yang sinergistik dalam menginduksi tidur, meningkatkan total sleep time, memperbaiki kualitas tidur serta membantu mencegah dan mengatasi efek buruk akibat kurang tidur seperti masuk angin dan penurunan imunitas.

“Passion flower dan valerian memiliki efek menekan aktivitas sistem saraf pusat dengan cara mengikat reseptor GABA (gamma-aminobutyric) dalam otak, melepaskan GABA dan menghambat degradasi GABA yang dapat menenangkan (soothing), antispasmodik (melemaskan otot yang tegang), dan antinyeri sehingga membantu mengatasi ketegangan saraf, spasme otot, kolik usus, migrain, neuralgia, gangguan cemas dan insomnia,” paparnya.

Pandemi COVID-19 tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik tapi juga kesehatan mental. Menurut Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI), 66 persen dari 1305 Responden mengalami masalah depresi dan sebanyak 80 persen dari 182 hasil swaperiksa mengalami gejala stres paska trauma psikologis karena mengalami atau menyaksikan peristiwa tidak menyenangkan terkait COVID-19.

Depresi dapat berpengaruh buruk pada kesehatan karena dapat menurunkan kesehatan fisik dan salah satu gejala utamanya adalah gangguan tidur. Gangguan tidur menyebabkan sesorang memiliki kualitas atau kuantitas tidur yang rendah. Padahal kualitas dan kuantitas tidur sangat memengaruhi imunitas dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Chief Business Development and R&D PT Deltomed Laboratories, apt. Drs. Victor S. Ringoringo, S.E., M.Sc., mengatakan, yakin kesehatan fisik dan kesehatan mental dimulai dari tidur berkualitas.

“Hadirnya Antangin Good Night menunjukkan bentuk komitmen Deltomed untuk terus mendukung kesehatan dan kualitas tidur masyarakat di tengah masa pandemi COVID-19,” tambahnya. (pia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button