Mutasi Corona, Pembukaan Sekolah Perlu Dievaluasi Lagi

JagatBisnis.com  – Pemerintah perlu mengevaluasi kebijakan pembukaan sekolah setelah kasus mutasi virus Corona (Covid-19/ SARs-CoV-2 B117) ditemukan di Indonesia. Sehingga pemerintah harus belajar dari kesalahan penanganan Covid-19 pada setahun belakangan. Oleh karena itu, rencana pembukaan sekolah sangat mungkin berubah.

Epidemiolog dari Universitas Indonesia Hermawan Saputra, mengatakan pemerintah tak bisa meremehkan varian baru ini seperti yang dilakukan sebelumnya. Makanya, pemerintah harus berkaca pada situasi di Inggris, asal mutasi virus corona B117. Karena varian virus baru itu bisa menurunkan tingkat efikasi dan efektivitas vaksin Covid-19.

Berita Terkait

“Sementara pembukaan sekolah, salah satunya mempertimbangkan cakupan vaksinasi pendidik dan tenaga kependidikan. Jadi, ada penurunan signifikan dari imunitas yang terbentuk di Inggris terkait efektivitas vaksin dengan merebaknya B117 di Inggris,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, dari negara lain Indonesia harus belajar, berarti ada potensi gangguan dari efektivitas vaksin. Apalagi Sinovac yang dipakai efikasinya 65,3 persen. Kalau ini sudah kecil, bisa terganggu terhadap efektivitas vaksinasi kalau (virus B117) merebak di Indonesia,

“Makanya, saya tak setuju dengan wacana pembukaan sekolah sejak Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim bersama tiga menteri lainnya memutuskan sekolah boleh dibuka dengan sejumlah syarat pada Januari 2021. Karena masih sangat berisiko dengan laju kasus Covid-19 yang masih tinggi,” imbuhnya.

Ditambahkan, dengan mutasi baru corona pemerintah perlu bergerak cepat, alih-alih menunggu mutasi baru menyebar luas.
Karena virus corona B117 tidak bisa dideteksi hanya dengan pemeriksaan swab polymerase chain reaction (PCR) biasa, melainkan membutuhkan alat dan ahli virologi khusus.

“Untuk itu, disarankan pemerintah segera melakukan penelusuran masif. Saya pribadi lihat ini, masuknya B117, jauh dari 2 Maret. 2 Maret hanya ditemukan. Tapi prediksi saya sejak akhir tahun lalu ini sudah terjadi di Indonesia,” pungkasnya. (esa/*)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button