Masa Depan Afghanistan di Bawah Kekuasaan Taliban

JagatBisnis.com –  Amerika Serikat telah menuntaskan pencabutan tentaranya dari Afghanistan menunjukkan berakhirnya perang selama 20 tahun di negeri itu dengan kembalinya Taliban memahami negeri itu. Taliban juga menyatakan kebebasan penuh atas Afghanistan, usai angkatan AS terakhir meninggalkan lapangan terbang Keikhlasan, Selasa 31 Agustus 2021.

Dengan Taliban memahami rezim dan semua wilayah Afghanistan, mencuat persoalan tentang kodrat negeri itu di dasar rezim terkini Taliban. Saat ini suasana di Afghanistan, di mana Taliban meregang kembali kewenangan setelah 20 tahun dituntut pergi oleh agresi arahan AS, tetap tidak normal dan tidak tentu.

Sistem keamanan, keuangan, dan rezim layuh usai Taliban mengutip ganti Afghanistan dari rezim legal Kepala negara Afghanistan Ashraf Ghani. Ribuan masyarakat awam melarikan diri dari rumahnya dan mengungsi mau meninggalkan negeri yang telah diterpa perang selama 20 tahun.

Taliban telah memublikasikan pembuatan negeri Emirat Islam Afghanistan pada Kamis 18 Agustus 2021 usai meregang bunda kota Keikhlasan. Taliban melaporkan mereka mau membuat” rezim Islam yang inklusif” dengan faksi- faksi lain. Mereka melakukan perundingan dengan politisi tua, termasuk para atasan di rezim sebelumnya.

Mereka telah berkomitmen untuk melempangkan hukum Islam, dan akan menyediakan area yang nyaman untuk kembalinya kehidupan wajar setelah sebagian dasawarsa perang.

Mereka telah berkomitmen untuk meluhurkan hak- hak wanita bagi syariat Islam, mengampuni mereka yang bertarung melawan mereka, dan menghindari Afghanistan digunakan sebagai dasar serbuan teror.

Statment itu disampaikan oleh Ahli Ucapan Taliban, Zabihullah Mujahid, dalam rapat pers awal mereka, 17 Agustus 2021. Mujahid menerangkan, ada perbandingan besar antara Taliban yang digulingkan AS pada 2001 dengan tindakan mereka setelah kembali berdaulat.” Kita tak mau mengulangi bentrokan dan perang apa juga, dan mau meniadakan faktor- faktor bentrokan,” tuturnya.

Tetapi, banyak masyarakat Afghanistan tidak menyakini Taliban. Mereka khawatir Taliban akan kembali menindas dan mempraktikkan hukum Islam yang keras, semacam kala berdaulat pada 1996 sampai 2001. Kala itu, perempuan dilarang berlatih di sekolah ataupun bertugas di luar rumah. Kalangan wanita wajib mengenakan burka yang tertutup dan ditemani kerabat laki- lakinya kala pergi rumah. Taliban mencegah nada, memotong tangan pencuri dan pezina dirajam.

Benjamin Jensen, ahli ikatan global dari Scowcroft Center for Strategy and Security semacam diambil Atlanti Council, mengatakan Taliban menguasai kalau mereka tidak bisa menyuruh Afghanistan dengan cara yang serupa semacam pada tahun 1990- an.

” Taliban akan berlagak keras dan menggelindingkan hak asas orang, tetapi akan berupaya untuk melindungi negeri itu tetap tersambung dengan bumi dan dolar dorongan mengalir. Kelompok itu mungkin mau menghindari terulangnya kekalahan rezim pada 1990- an dengan meminta banyak administratur penguasa untuk tetap terletak di posisi teknis dan membenarkan kalau layanan dasar dan ekonomi lalu berperan,” tuturnya.

Setelah AS ambil kaki dari Afghanistan, Cina dan Rusia melaporkan mau meningkatkan ikatan dengan Taliban dan menolong membuat Afghanistan. Cina menginginkan Afghanistan bisa mengadopsi kebijaksanaan Islam berimbang. Cina telah mengambil ekstremisme agama sebagai daya destabilisasi di wilayah barat Xinjiang, dan telah lama takut kalau wilayah yang dipahami Taliban akan digunakan untuk menampung gerombolan separatis.

Kepala negara Cina, Xi Jinping, mengatakan kalau Cina mendesak seluruh kelompok di Afghanistan membuat kerangka kegiatan politik inklusif dengan mengaitkan sebagian pihak yang lebih besar. Afghanistan wajib dapat mengutip kebijaksanaan dalam dan luar negara yang berimbang, dan memutuskan ikatan dengan seluruh kelompok teroris supaya dapat berteman dengan bumi global, paling utama negeri orang sebelah. (pia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button