Kepedihan Bangsa Palestina Masih Belum Berakhir

jagatBisnis.com — Kesaksian seorang gadis Palestina, Maryam Abu Mathor yang menjadi korban Great Return March atau Pawai Kepulangan Akbar adalah salah satu realita kisah kepedihan bangsa Palestina. Kesaksian tersebut diceritakan dalam acara talkshow yang digelar Adara Relief International secara virtual, pada akhir pekan lalu. Talkshow bertema “Realita Kepedihan Bangsa Palestina” digelar dalam rangka menyambut International Solidarity Day for Palestine pada 29 November mendatang.

Maryam menjelaskan, Great Return March merupakan aksi besar warga Palestina menuntut Hak Kembali ke tanah air mereka. Aksi tersebut berlangsung sejak akhir Maret 2018 dan terhenti karena pandemi Covid-19. Aksi yang rutin dilakukan setiap hari Jumat itu dipusatkan di sepanjang garis perbatasan Gaza.

Berita Terkait

“Saat aksi, betis kanan saya tertembak sniper tentara Israel yang dengki melihat kami membawa bendera kemerdekaan untuk ditancapkan di wilayah kami. Kalau tidak ada pertolongan dari wilayah Turki, mungkin saya sudah mati syahid dan saya akan merasa bahagia. Karena tidak lagi mengalami penderitaan hidup dijajah,” katanya seperti dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Rabu (25/11/2020).

Pada kesempatan yang sama, Maryam mengucapkan terima kasih rakyat Indonesia yang sudah berjuang untuk membantu rakyat Palestina. Dia juga berharap, Indonesia terus mendukung perjuangan pemuda Palestina yang berada di garda terdepan yang berjuang untuk kemerdekaan Palestina.

“Kami juga ingin agar dunia bisa segera menolak segala bentuk penjajahan dan mendukung kemerdekaan Palestina,” tegasnya.

Sementara itu, Ketua Koalisi Perempuan Indonesia untuk Al Quds dan Palestina, Nurjanah Hulwani mengungkapkan pengalamannya saat menyaksikan Pawai Kepulangan Akbar pada 2019. Selain itu, dia juga menceritakan daftar panjang kepedihan yang dialami bangsa Palestina, seperti yang terjadi di wilayah Al Quds yang saat ini telah ditetapkan sebagai ibu kota Israel.

“Di wilayah itu, para murobithoh yang jumlahnya hanya 550 orang dan murobithin 500 orang, harus menghadapi ribuan tentara zionis.

Bahkan, pembongkaran rumah dan penjarahan warga Al Quds menjadi kegiatan rutin para tentara zionis. Rentetan kepedihan, seperti perlakuan semena-mena dialami para pengungsi dan tahanan Palestina menambah daftar panjang kepedihan mereka,” paparnya.

Ketua Komunitas Ibu Indonesia Peduli Palestina (IIPP), Nani Handayani mengajak masyarakat Indonesia untuk membantu perjuangan bangsa Palestina karena solidaritas Palestina merupakan hal penting antara ukhuwah dan amanah. Apalagi, dirinya sudah melihat secara langsung kondisi rakyat Palestina di Al Aqsa.

“Di mana rumah-rumah mereka sudah tidak layak dan tidak dialiri listrik. Kondisi rakyat Palestina dan Yahudi yang tinggal di Tepi Barat pun sangat berbeda. Masalah Palestina adalah masalah kemanusiaan. Bentuk solidaritas yang bisa kita lakukan di antaranya berdoa, melakukan edukasi kepada masyarakat, dan yang terakhir adalah memberikan harta yang merupakan rezeki dari Allah,” tutupnya. (eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button