Indonesia Miliki Kelebihan Stok Beras, Bisa Diekspor

JagatBisnis.com – Di tengano cuaca ekstrem, Indonesia memiliki kelebihan stok beras. Diketahui, ada kelebihan stok sekitar 5 juta ton sampai 9 juta ton. Sehingga stok bahan pangan pokok di dalam negeri terkendali hingga akhir tahun 2020. Bahkan, stok beras gang berlebih hingga 7 ton itu bisa diekspor.

“Khusus beras, sudah dua tahun ini kami tidak impor beras. Karena ada over stock dari carry over hampir di atas 5 juta ton sampai 9 juta ton per tahun,” kata Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo dalam keterangan tertulis, Minggu (14/11/2021).

Menurutnya, pada dua musim tanam di tahun ini, produksi beras dalam negeri mencapai lebih dari 30 juta ton. Dengan stok yang surplus 7 juta ton, cadangan beras akan aman hingga di awal 2021. Apalagi, saat ini ada 11 bahan pokok dasar dalam kondisi penuh dan terkendali hingga akhir 2020.

“Karena untuk musim tanam 1 dan 2, sektor pertanian telah menghasilkan kurang lebih 31 juta ton lebih beras. Stok beras ini akan bertahan hingga 2021. Bahkan, ada overstock di 6,7 juta ton untuk kita ekspor,” ungkapnya.

Sementara itu, lanjut dia, sejak bulan Oktober lalu, penanaman padi untuk dipanen pada bulan Maret 2021 mendatang sudah dilakukan.
Dipastikan akan ada sebanyak 17 ton beras yang bisa didapatkan dari hasil panen nanti.

“Maka, ketahanan pagan kita untuk rakyat Indonesia sudah mencukupi. Apalagi, kita ada food estate di Kalteng, lalu di Sumut kalau butuh cadangan dan ada kelebihan nanti bisa diekspor,” ungkap Syahrul.

Dia menjelaskan, walaupun masih aman, tetapi pemerintah pusat dan daerah perlu melakukan delapan langkah untuk menghadapi cuaca ekstrem. Pertama, menyiapkan embung untuk menampung air hujan. Embung dibutuhkan untuk menghadapi kemarau panjang. Kedua, menciptakan varietas yang bisa bertahan pada musim kemarau.

“Ketiga, menyiapkan bahan organik di dalam tanah. Keempat, diversifikasi tanaman selain padi. Hal ini untuk memenuhi kebutuhan karbohidrat masyarakat. Jadi jangan bertumpu pada padi saja, kita juga bisa beralih ke singkong, ubi dan pisang. Jadi yang membuat kenyang tidak hanya beras,” imbuh Syahrul.

Kelima, tambah Syahrul, perkuat sistem integritas tanaman dengan perkebunan. Keenam, mendorong penelitian dalam menghadapi cuaca ekstrem. Ketujuh, menanam di lahan-lahan kritis. Jika ada lahan yang menganggur, maka bisa ditanam jagung atau ubi. Tapi tanahnya harus clear, jangan sampai diintervensi.

“Kedelapan, tanam pohon di pekarangan rumah. Hal ini dibutuhkan untuk mengikat air di bawah tanah. Pohon-pohon besar bisa menjadi pilihan,” pungkas Syahrul. (eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button