Dua Menteri Jokowi Bakal Saksikan 100 Kiai NU Divaksin AstraZeneca

JagatBisnis.com – Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin dan Menteri Badan Upaya Kepunyaan Negeri Erick Tohir dijadwalkan muncul dalam kegiatan vaksinasi merk AstraZeneca yang akan dilaksanakan di kantor Pengasuh Wilayah Nahdlatul Malim Jatim di Surabaya pada Selasa, 23 Maret 2021.

Dua menteri itu akan melihat cara vaksinasi yang akan diserahkan pada sekurang- kurangnya seratus ajengan NU.

Jika esok terselenggara, vaksinasi dengan merk AstraZeneca di kantor NU Jatim itu akan jadi yang awal dilaksanakan setelah vaksin ciptaan Inggris itu datang di Indonesia sebagian durasi lalu.

“ Insya Allah Menkes dan Menteri BUMN akan muncul,” tutur Sekretaris PWNU Jatim Akhmad Muzakki pada Minggu, 21 Maret 2021.

Sebelumnya, 23 Februari 2021, NU Jatim pula mengadakan vaksinasi jenis Sinovac yang disasarkan pada 98 ajengan dan sejumlah penggerak NU di situ. Itu pula vaksinasi awal di Indonesia dengan target malim, penjaga madrasah, dan ajengan di area NU.

“ Vaksinasi ini dilaksanakan sebagai wujud keteladanan dari NU dan fakta kalau vaksin AstraZeneca halal,” ucapnya.

Katib Syuriah NU Jatim Syafruddin Syarif membetulkan kalau vaksin yang akan digunakan pada Selasa mendatang itu merupakan vaksin merk AstraZeneca.“ Iya, itu[vaksinasi) yang kedua untuk kiai- kiai yang di atas baya 60 tahun,” tuturnya dihubungi melalui sambungan telepon kepal.

AstraZeneca sendiri hingga saat ini masih kontroversial. Perbandingan opini terjadi antara NU Jatim dengan Badan Malim Indonesia( MUI) terkait hukum menggunakan vaksin ciptaan Inggris itu, karena disebut- sebut mengandung faktor babi.

Hasil amatan Lembaga Bahtsul Masail NU Jatim sebagian hari lalu melahirkan kesimpulan kalau vaksin AstraZeneca bersih dan halal, biarpun juga ada faktor babi pada cara pembuatannya. Karena, sudah terjadi pancaroba bentuk. Dalam hukum Islam, pancaroba bentuk jijik jadi bersih diucap dengan istihalah.

” Istihalah itu artinya berpindah bentuk. Benda jijik itu jika sudah berpindah bentuk hingga tidak jadi jijik, tidak jadi tabu lagi,” tutur Pimpinan NU Jatim Marzuki Mustamar usai kegiatan kolokium nasional tentang Syaikhona Kholil di Surabaya, Jawa Timur, pada Sabtu kemarin.

Beliau lalu mengutip ilustrasi orang yang menyantap babi lalu diproses oleh alat badan di dalam perut setelah itu berkeringat. Keringat orang yang menyantap babi itu ketetapannya bersih, biarpun berawal dari perasan santapan babi.“ Terdapat yang jadi kotoran, itu jelas jijik. Tetapi terdapat pula yang jadi keringat, nah itu keringat ketetapannya bersih. Jangan lagi dipikir itu orang makan babi berarti keringatnya jijik,” cakap Marzuki.

Ilustrasi yang lain, lanjut ia, yakni pupuk yang dibuat dari kotoran lembu, kambing, ataupun ayam.”( Pupuk itu) digunakan pupuk ubi, ketela pohon, dan semacamnya. Esok kita bisa mengkonsumsi ketelanya, sekali juga jika diurai dengan cara objektif mungkin terdapat faktor yang berawal dari kotoran tadi. Ini sudah tidak dihukumi jijik karena sudah istihalah, sudah berpindah bentuk,” teran Marzuki.

LBM NU Jatim pula merujuk pada ajaran malim Mesir, Uni Emirat Arab, dan sejumlah malim pemegang daulat ajaran di Negeri lain di Timur Tengah, yang pula menggunakan argumentasi istihalah dalam menghukumi vaksin. Bagi Marzuki, kebaikan ulama- ulama Mesir, Uni Emirat Arab, dan malim di Negeri Timur Tengah yang lain tidak diragukan lagi.

Sementara itu, MUI menggenggam opini yang lebih kencang. MUI menghukumi vaksin AstraZeneca tabu karena mengandung faktor babi. Tetapi, dalam situasi gawat penggunaannya dibolehkan. Dalam hukum Islam, kebolehan itu diucap dengan mubah.

“ Bisa menggunakan vaksin AztraZeneca] tetapi[kebolehannya] amat terbatas. Artinya terbatas, jika esok terdapat vaksin yang semacam Sinovac[tidak mengandung faktor babi] ini[AztraZeneca] tidak bisa digunakan,” tutur Pimpinan Biasa MUI Miftachul Akhyar di Surabaya, Sabtu kemarin. (ser)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button