Bugil Demi Cuan, Moral Selebgram RR Dipertanyakan

JagatBisnis.com –   Alat sosial sering diwarnai dengan macam foto menarik dari selebgram, bagus itu yang membuktikan momen liburan elegan, santapan istimewa, sampai aksi menarik. Tak sedikit yang seakan berkenan menjajakan badan dengan alasan untuk konten semata.

Terkini, permasalahan salah seorang selebgram RR yang dibekuk di Bali karena sering telanjang saat sedang live di aplikasi Mango Live.

Atas perilakunya itu, selebgram RR juga akhirnya diamankan pihak Kepolisian Resor Kota Denpasar, Bali yang melaporkan tindakan dari selebgram itu diduga masuk dalam faktor pornografi.

Dikatakan psikolog, Analisa Widyaningrum, kejadian ini memang sudah lumayan terkenal di masa alat sosial ini. Perihal ini juga seragam dengan riset dari UNICEF pada tahun 2004 yang mengatakan terdapat sebagian faktor intelektual yang mendesak anak, paling utama anak muda wanita untuk melepaskan badannya.

” Paling utama anak muda wanita yang ingin mempertaruhkan dirinya dengan cara intim. Mungkin saat ini lebih elok betul, enggak telanjang kenapa, enggak berkaitan seks kenapa. Tetapi ini demosi akhlak. Apa sih yang menyebabkan mereka ingin?” tutur Ana pada Senin, 20 September 2021.

Dilanjutkan Ana, salah satu faktor yang membuat anak berkenan menjual badan untuk cuan merupakan karena ekonomi kecil. Tidak hanya itu, pembelajaran pula ikut mempengaruhi pemikat uang tebal walaupun wajib berkenan bergaya sedikit.

” Mereka yang berkenan menjajakan dirinya untuk bisa cuan dengan mudah karena tidak memiliki keahlian di bumi pabrik hari ini. Jadi talent management tadi menggelisahkan kita seluruh karena kita akur jika kita membiarkan ini, artinya kian banyak anak indonesia yang mereka tidak mempertimbangkan pembelajaran untuk dapat( kegiatan) di bumi pabrik,” terangnya.

Terdapat juga faktor guncangan dapat mengakibatkan keinginan untuk menjajakan badannya dampak kekerasan dari keluarga dan area. Tak sedikit pula yang melaksanakannya dampak faktor keterpaksaan.

” Ditemukan pula dari riset UNICEF itu karena awalnya dituntut. Lalu lambat- laun mereka terperangkap,” bebernya.

Gimana menghindari anak terperangkap kejadian ini?

Bagi Ana, Indonesia sendiri mengalami tantangan dalam kelangsungan informasi melalui internet di masa ini. Bukan cuma itu, pemakaian kerja di era endemi memforsir anak berhadapan dengan internet setiap harinya.

” Dahulu anak dasar baya enggak dapat maanfaatkan internet untuk cari ketahui suatu. Saat ini usianya belum sedia tetapi udah dikasih device itu. Ini enggak ditolak karena anak memerlukan itu untuk sekolah online,” jelasnya.

Walaupun sedemikian itu, kedudukan orangtua lah yang sepatutnya sanggup memgawasi dan berikan batas pada pemakaian internet anak. Dari sana, akhlak harus ditanamkan pada anak sejak dini supaya nanti sanggup menggunakan internet dengan cara bijaksana dan bebas dari pemanfaatan intim.

” Lagi- lagi kedudukan keluarga, gimana mereka memantau anak. Keluarga ini yang menancapkan angka akhlak, bukan mempersalahkan endemi. Supaya orangtua dapat mengendalikan pemakaian internet pada anak anak muda yang umurnya 13 thn ke dasar, gimana membuat keakraban anak dengan orangtua,” jelasnya.(pia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button