Hadapi Potensi Kekeringan Ekstrim, BMKG akan Terapkan Teknologi Modifikasi Cuaca

jagatbisnis.com – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan, sejumlah wilayah di Indonesia akan masuk musim kemarau dan berpotensi mengalami kekeringan. Untuk itu, BMKG akan melakukan upaya modifikasi cuaca guna meredam efek kekeringan.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati menyampaikan, sebagian wilayah Indonesia akan mengalami kekeringan dengan keadaan di bawah normal hingga September.

Adapun wilayah yang akan mengalami kemarau ekstrim akibat curah hujan yang sangat rendah sebagian besar berada di belahan selatan Indonesia, seperti sebagian wilayah Sumatra bagian selatan, Pulau Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi Selatan bagian selatan, sebagian kecil Kalimantan, Maluku, dan Papua bagian selatan.

Lalu, ada beberapa wilayah yang diprediksi curah hujannya akan sangat rendah hingga Oktober 2024 yakni sebagian wilayah Lampung, Jawa, Bali, NTB, NTT, sebagian Sulawesi Selatan dan Sulawesi Tenggara, sebagian Maluku dan Papua bagian selatan.

Baca Juga :   Jakarta Hari Ini Diprediksi Cerah

Guna mengatasi kekeringan ini, Dwikorita menyebut, BMKG telah berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian PUPR, dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk merencakan upaya teknologi modifikasi cuaca (TMC).

“Menyiapkan teknologi modifikasi cuaca terutama untuk wilayah-wilayah yang diprediksi akan mengalami kekeringan dan kebakaran lahan dan hutan,” kata Dwikorita dalam konferensi pers yang disiarkan melalui Youtube BMKG, Selasa (28/5).

“Kita akan memulai dari Sumatera kemudian Kalimantan, kemudian juga hampir bersamaan dilakukan di Jawa, NTB, dan NTT. Wilayah tersebut terutama Jawa, NTB, dan NTT ini untuk pengisian waduk-waduk,” tambahnya.

Baca Juga :   Ganggu Penerbangan, BMKG Warning 7 Hari ke Depan Waspadai Awan Kumulonimbus

Untuk wilayah Sumatra dan sebagian Kalimantan, teknologi modifikasi cuaca akan diperuntukan guna membasahi lahan dan menaikkan muka air tanah di lahan gambut, sehingga lahan sudah cukup terbasahi ketika masuk musin kemarau.

“Semoga saja hotspot dapat ditekan kehadirannya,” ujarnya.

Dwikora bilang, teknologi modifikas cuaca direncakan sudah berjalan mulai dari awal minggu ini (minggu ke-4 Bulan Mei) dan akan memprioritaskan daerah-daerah dengan prediksi sifat musim kemarau di bawah normal yakni yang curah hujannya sangat kecil.

“Mulainya waktu itu disiapkan 7 Mei hingga Juni, kemungkinan sampai 10 hari kedua, sampai 20 Juni,” jelasnya.

Plt Deputi Bidang Modifikasi Cuaca BMKG Tri Handoko Seto menyebut, BMKG telah menyiapkan empat posko untuk melaksanakan operasi modifikasi cuaca serentak.

Baca Juga :   BMKG: Dampak Super New Moon Akan Terjadi Banjir Rob hingga 26 Februari

Posko-posko tersebut tersebar di Surabaya, Semarang, Bandung, dan Jakarta. Kini telah dilaksanakan persiapan pesawat di masing-masing posko.

Seno berharap, teknologi modifikasi cuaca untuk pengisian waduk ini dapat terlaksana pada Kamis, (30/5).

Rencana yang sama juga dilakukan dalam upaya pembasahan lahan gambut di Sumatera dan Kalimantan.

“Untuk rencana TMC di Karhutla, sedang persiapan juga dengan teman-teman dari BNPB ya, direktur penanganan dan darurat BNPB telah menyiapkan rencana ini dan kemungkinan akan dioperasikan oleh operator swasta,” terang Seno di kesempatan yang sama, Selasa (28/5).

“Harapannya juga lusa sudah bisa dilakukan operasi untuk pembahasan lahan gambut, pengisian tinggi muka air gambut,” tambahnya. (Hfz)

MIXADVERT JASAPRO