Ini Alasan Proyeksi Lifting Migas 2025 Turun Jadi 580.000 Bph

jagatbisnis.com – Pemerintah kembali menurunkan target siap jual atau lifting minyak dan gas (migas) melalui Kerangka Ekonomi Makro dan Pokok-pokok Kebijakan Fiskal (KEM-PPKF) 2025. Lifting migas ditargetkan mencapai 580.000-601.000 barel per hari (bph), turun dari target lifting migas tahun ini sebesar 635.000 bph.

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam pidato Rapat Paripurna DPR RI mengatakan, mencermati tensi geopolitik yang saat ini masih berlanjut, maka lifting minyak bumi 580.000 – 601.000 barel per hari dan lifting gas 1.004.000 – 1.047.000 barel setara minyak per hari.

Berdasarkan KEM PPKF tersebut juga, Sri Mulyani memperkirakan harga minyak mentah Indonesia (ICP) akan berkisar pada harga US$ 75 – 85 per barel di tahun 2025.

KONTAN mencatat, di tengah upaya pemerintah menggenjot produksi lifting minyak, realisasi produksi minyak di Indonesia justru malah tergelincir.

Hingga April 2024, realisasi produksi minyak hanya 576.000 barel per hari (bph). Produksi ini merupakan yang terendah dalam 56 tahun terakhir. Sebelumnya, produksi masih tembus di kisaran 600.000 bph.

Pemerintah telah menetapkan target lifting minyak di APBN 2024 sebesar 653.000 bph. Melihat tren ini rasanya sulit bagi pemerintah mencapai target tersebut.

Kepala Divisi Program dan Komunikasi Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (skk Migas), Hudi Suryodipuro bilang, produksi minyak Indonesia secara year to date sampai dengan 15 April 2024 adalah sebesar 576.000 barel per hari.

Penurunan produksi dikarenakan banjir yang melanda sebagian Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) di wilayah Sumatra (PHR, PHE Kampar, Tiara Bumi, SRMD dll). Akibat banjir tersebut, banyak sumur eksplorasi mengalami unplanned shutdown, dan saat ini KKKS masih mencoba mereaktivasi kembali sumur-sumur tersebut.

Menurut Hudi, bencana banjir juga menyebabkan sejumlah kegiatan pemboran dan well services tidak dapat dilakukan, sehingga belum ada kontribusi dari kegiatan tersebut.

“Kami masih terus berupaya untuk mengejar target produksi 2024,” kata Hudi ke KONTAN, beberapa waktu lalu.

Untuk tetap meningkatkan produksi, SKK Migas mengakselerasi reaktivasi sumur dan juga percepatan pengeboran dan perawatan sumur.

Sementara itu, Ketua Komite Investasi Asosiasi Perusahaan Minyak dan Gas (Aspermigas), Moshe Rizal mengatakan, jika tidak ada kebijakan dan gebrakan baru yang dilakukan oleh pemerintah dan KKKS maka produksi migas akan tetap turun dari tahun ke tahun.

Menurut Moshe, peningkatan produksi bisa dilakukan dengan teknologi Enhanced oil recovery (EOR) dan meningkatkan kegiatan eksplorasi untuk jangka panjang.

“Menggenjot eksplorasi secepat mungkin dan langsung diconvert ke produksi,” kata Moshe kepada KONTAN, Kamis (23/5).

Selain itu, Moshe menyoroti investor di sektor migas yang sudah tidak diminati lagi oleh investor. Untuk itu, perlu adanya gebrakan baru dan revolusi industri migas di Indonesia. Pemerintah memformulasikan strategi baik fiskal dan nonfiskal untuk membantu minat investasi migas di Indonesia.

Pengamat ekonomi energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi menilai target lifting migas yang turun tersebut memang realistis. Sebab, selama ini lifting migas selalu di bawah target APBN dan karena itu tahun depan proyeksi lifting migas diturunkan.

“Jika dilihat secara historis, untuk minyak memang selalu di bawah target APBN. Meskipun sudah diturunkan, tahun depan saya agak tidak yakin target lifting migas tersebut bisa tercapai,” kata Fahmy kepada KONTAN, Kamis (23/5).

Ia membeberkan, pertimbangan tidak tercapainya lifting migas 202t tersebut lantaran produksi minyak sudah turun terus dari tahun ke tahun. Terlebih, cadangan minyak Indonesia juga turun cukup besar.

Jika ada cadangan yang baru, kata Fahmy, tempatnya pun masih sulit dan membutuhkan investasi besar dan teknologi yang canggih. Sumber minyak ditemukan di lekungan tengah laut.

Selain itu, investor besar sudah meninggalkan investasi migas di Indonesia. Jika ada, itu hanya investor-investor kecil. Kondisi tersebut berdampak pada sulitnya eksplorasi minyak bumi.

“Saya kira target lifting 500.000 bph masih susah dicapai,” tuturnya.

Namun, Fahmy masih optimistis dengan KEM PPKF untuk lifting produksi gas yang masih dapat dicapai lantaran produksinya masih besar. (Hfz)

MIXADVERT JASAPRO