WHO Serukan Gerakan Lindungi Anak dari Kontaminasi Obat Batuk Sirup

JagatBisnis.comPada 2022, lebih dari 300 anak, sebagian besar balita, di Indonesia, Gambia, dan Uzbekistan meninggal akibat gangguan ginjal akut, yang dikaitkan dengan kontaminasi obat. Obat batuk sirup yang dijual bebas itu memiliki kandungan dietilen glikol dan etilen glikol yang tinggi.

“Kedua kontaminan itu adalah kimia beracun yang digunakan sebagai pelarut industri dan bahan antibeku, yang bisa menjadi fatal meski diminum dalam jumlah kecil,” ujar WHO seperti dikutip Selasa (24/1/2023).

WHO memaparkan, ada tujuh negara telah melaporkan temuan obat batuk sirup tercemar dalam empat bulan terakhir. Sehingga WHO mengeluarkan peringatan pada October 2022 dan Januari 2023 agar obat-obatan tertentu ditarik dari peredaran. Obat-obatan tersebut diproduksi oleh Maiden Pharmaceuticals dan Marion Biotech di India. Yang masing-masing dikaitkan dengan kematian di Gambia dan Uzbekistan.

Baca Juga :   Kewenangan WHO, Merubah Jakarta dari Pandemi Jadi Endemi

“Tahun lalu, kami juga sudah mengeluarkan peringatan pada bagi obat-obat batuk sirup buatan empat produk Indonesia yang dijual di dalam negeri. Yaitu PT Yarindo Farmatama, PT Universal Pharmaceutical, PT Konimex, then PT AFI Pharma. Kami meminta produk-produk tersebut ditarik dari peredaran dan meminta negara memastikan. Jika obat yang dijual, wajib disetujui oleh otoritas yang berkompeten,” imbuh WHO. (*/els)