Memasuki Tahun Krisis, Warga Pakistan Dilarang Pakai Kipas Angin

JagatBisnis.com –  Pemerintah Pakistan telah memerintahkan pusat perbelanjaan dan pasar tutup lebih awal setiap hari menghadapi krisis ekonomi tahun ini. Langkah-langkah tersebut dianggap akan mampu menyelamatkan negara Asia Selatan itu dengan nilai ekonomi mencapai USD274,3 juta atau sekitar Rp4,2 triliun.

Menteri Pertahanan Khawaja Asif mengatakan, krisis Pakistan berawal dari lonjakan harga energi sejak tahun lalu. Bagaimana tidak, sebagian besar kebutuhan energi di Pakistan menggunakan bahan bakar fosil impor. Saat harga energi global melonjak tahun lalu, memberikan tekanan lebih lanjut terhadap keuangan negara.

“Untuk membayar impor energi tersebut, negara membutuhkan mata uang asing, terutama dolar AS. Pemerintah Pakistan memiliki USD11,7 miliar mata uang asing yang tersedia bulan lalu setelah cadangan devisa turun sekitar 50 persen tahun lalu,” katanya seperti dilansir BBC, Rabu (4/1/2023).

Baca Juga :   Pakistan Dirudal yang Diduga Ditembakkan India

Menurut dia, cadangan devisa hanya cukup untuk menutupi sekitar satu bulan dari semua impor negara, yang sebagian besar adalah energi. Untuk itu, pusat perbelanjaan dan pasar harus tutup lebih awal dan departemen pemerintah telah diperintahkan untuk mengurangi konsumsi listrik mereka sebesar 30 persen.

Baca Juga :   PM Pakistan Ingin OKI Tengahi Konflik Rusia-Ukraina

“Sementara itu, penggunaan hingga produksi kipas angin dan AC yang tidak efisien akan dilarang mulai awal Juli 2023. “Kabinet federal segera menyetujui penegakan Rencana Konservasi Energi,” kata partai Liga Muslim Pakistan-N (PML-N) yang berkuasa melalui cuitan di Twitter. (*/els)