Raja Malaysia Belum Bisa Putuskan PM Baru

Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah Foto: MIMBAR PUBLIK

JagatBisnis.com – Raja Malaysia Yang di-Pertuan Agong Al-Sultan Abdullah Ri’ayatuddin Al-Mustafa Billah Shah dilaporkan masih belum bisa menentukan siapa yang akan menjadi perdana menteri (PM) baru meski telah bertemu dengan dua pemimpin koalisi partai, Anwar Ibrahim dan Muhyiddin Yassin, di Istana Negara, Selasa (22/11/2022) sore.

Padahal, keputusan penunjukan PM baru Malaysia ada di tangan Raja karena koalisi Anwar dan Muhyiddin sama-sama tidak sanggup memenuhi jumlah dukungan suara minimal yang ditetapkan konstitusi Malaysia untuk membentuk pemerintahan.

“Belum ada keputusan dari Raja mengenai penunjukan Perdana Menteri ke-10 sekarang ini,” kata Anwar kepada wartawan usai bertemu Sang Raja, seperti dilansir kantor berita Bernama.

Baca Juga :   Dalam Sehari, Corona di Malaysia Melonjak 9.117 Kasus

Anwar menuturkan Raja Abdullah mendesak perlu ada perjanjian dan kerja sama dari semua partai demi bisa membentuk pemerintahan yang kuat.

Dengan demikian, Malaysia masih belum juga memiliki pemimpin baru meski hasil pemilu telah keluar pada Minggu (20/11/2022).

Berdasarkan hasil pemilu, koalisi pimpinan Anwar Ibrahim, Pakatan Harapan (PH), memang meraih suara terbanyak, yakni sebanyak 82 kursi. Namun, angka tersebut tak cukup untuk meraih mayoritas.

Baca Juga :   Jelang Nataru, Varian Omicron Sudah di Malaysia

Sementara itu, koalisi pendukung Muhyiddin Yassin, Perikatan Nasional (PN), hanya mendapat 73 kursi. Ia sempat mengklaim sudah mendapatkan dukungan dari dua kubu politik yang lebih kecil dari Sabah dan Sarawak.

Meski dengan dukungan Sabah dan Sarawak, kursi yang diperoleh koalisi Muhyiddin baru 101. Angka itu juga masih belum mencapai ambang batas, yakni 112 kursi.

Baca Juga :   Malaysia ‘Suntik Mati’ Jaringan 3G

Padahal, Raja Abdullah telah memperpanjang tenggat waktu bagi Anwar dan Muhyiddin untuk mendapat dukungan minimal yang disyaratkan agar salah satu dari koalisi mereka dapat membentuk pemerintahan baru.

Namun, baik koalisi Anwar dan Muhyiddin sampai saat ini tidak ada yang bisa mendapatkan dukungan sesuai ambang batas yang ditentukan. Karena itu, saat ini, keputusan terakhir penunjukan PM Malaysia ada di tangan Raja. (tia)