Siti Elina Bawa Senpi ke Istana Negara

Ilustrasi Senjata Foto: Detikcom

JagatBisnis.com Kelakuan Siti Elina yang bawa senjata api serta berupaya menerobos Istana Merdeka pada Selasa( 25/ 10) menuai sorotan. Banyak warga menanya apa corak wanita berumur 24 tahun asal Koja, Jakarta Utara, itu berani melaksanakan aksi itu. Ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri memberikan pandangannya kepada permasalahan ini. Reza berkata, bila diamati sebentar, kelakuan yang dicoba Siti masuk jenis tujuan pembunuhan.

” Dulu Mabes Polri, sekarang Istana yang akan dibobol. Sepintas, ini misi pembunuhan. Targetnya adalah menembak aparat,” tutur Reza pada reporter.

Walaupun sedemikian itu, Reza berkata, bisa jadi terdapat motif lain kenapa Siti Elina berani melaksanakan kelakuan nekat itu.

Baca Juga :   Siti Elina Sempat Pertanyaan Bansos dan Pajak sebelum Terobos Istana Presiden

” Tapi boleh jadi tujuan puncaknya adalah dia justru ingin ditembak. Jadi misi bunuh diri. Dan dia pinjam tangan polisi. Istilahnya, suicide by cop( SbC),” cakap ia.

Reza menjabarkan, sedang perlu ditelisik lebih jauh apa motif sebetulnya Siti Elina berani melaksanakan kelakuan itu.

Baca Juga :   Anies dan Jokowi Bertemu di Istana Negara

” Apakah polisi adalah target sesungguhnya atau sebatas target pengganti? Jika kesumatnya tertuju eksklusif pada polisi, apalagi tanpa alasan spesifik, maka di sejumlah kawasan ini dikategorikan sebagai kejahatan serius yakni hate crime,” nyata Reza.

” Namun sebaliknya, kalau misi sesungguhnya adalah bunuh diri, maka pelaku justru perlu disikapi dengan penuh empati sebagai orang yang sejatinya membutuhkan bantuan,” tutur ia.

Baca Juga :   Siti Elina Sempat Pertanyaan Bansos dan Pajak sebelum Terobos Istana Presiden

Lebih lanjut, Reza menerangkan bersumber pada hasil studi, lebih dari separuh para pelaku SbC merupakan penderita mental illness. Oleh karena itu, petugas harus mempunyai kewaspadaan sekalian ketenangan tingkat tinggi.

” Pertanyaannya, andai benar bahwa ini adalah SbC dan pelaku adalah orang yang sedang bermasalah berat, apakah ia sepatutnya direhabilitasi atau tetap dihukum saja?” tutup Reza. (tia)