We Love Bali, Perkuat Magnet Destinasi Wisata di Selatan Kota Denpasar

jagatBisnis.com – Serangan adalah sebuah Pulau kecil yang terletak 5 Km disebelah Selatan Kota Denpasar, Bali. Pulau yang memiliki Panjang kurang lebih 2,9 Km dan lebar 1 km ini secara administratif masuk ke wilayah Kota Denpasar Provinsi Bali.

Pada akhir 1995, Pulau Serangan di bagian selatan Kota Denpasar, Bali, masih menjadi salah satu pusat habitat penyu. Ketika itu, Serangan masih menjadi pulau seluas sekitar 110 hektar dan terpisah dari Bali daratan. Desa yang masuk wilayah Kecamatan Denpasar Selatan itu pun dikenal dengan julukan sebagai Pulau Penyu. Dan sekitar awal 1996.

Ketika itu, PT Bali Turtle Island Development (BTID), milik anak Penguasa Orde Baru “Soeharto’’, Bambang Trihatmodjo menguruk Pulau Serangan hingga luasnya mencapai hampir empat kali lipat, lebih dari 400 hektar.pada Tahun 1998 reklamasi tersebut terhenti karena Krisis Politik dan Ekonomi dan hanya mewariskan Lahan yang tidak terawat.

Pada Tahun 2006 warga loka pun mendirikan Pusat Konservasi dan Pendidikan Penyu (Turtle Conservation and Education Center / TCEC). Ketika itu, organisasi lingkungan WWF turut mendukung pendirian dan pengelolaan TCEC. Namun, saat ini pengelolaan sudah dikelola sepenuhnya oleh Desa Adat Serangan.

Tempat Konservasi Penyu di Pulau serangan dapat menjadi pilihan tempat berwisata saat masa pandemi Covid-19.secara perlahan tempat wisata di pulau bali ini sudah mulai buka dan mengikuti Protokol CHSE (Cleanlinnes, Health, Safety, dan Environment Sustainability), yang sedang digalakan oleh Pemerintah Provinsi Bali guna mencegah Penyebaran Virus Covid -19.

Sejak dibukanya tempat konservasi penyu ini banyak dikunjungi wisatawan lokal maupun Wisatawan asing yang penasaran untuk mengamati keberadaan Penyu secara langsung. Lokasi penangkaran penyu ini berada di Jalan Tukad Wisata Nomor 4, Serangan Kota Denpasar.

I Made Sukanta pengelola tempat Konservasi Penyu di Pulau serangan mengatakan bahwa pengunjung terbanyak berasal dari Denpasar, Badung, maupun Gianyar bahkan dari Jakarta. Ujarnya saat di temui Minggu (6/12) siang.

I Made Sukanta mengatakan,sejak dibuka tanggal 9 Juli, dalam sehari tempat konservasi ini dikunjungi 10 orang. Sementara untuk wisatawan asing hanya 5 sampai 8 orang per hari. Hal ini sangat jauh berbeda saat sebelum pandemi. “Kalau sebelum Covid-19, bisa 50 hingga 150 orang per hari. Biasanya ramai saat Sabtu dan Minggu. Kalau hari biasa sepi. Kadang tidak ada sama sekali,” ujarnya.

Untuk wisatawan yang datang ketempat Konservasi Penyu ini tidak dipungut biaya tiket, akan tetapi biasanya pengunjung yang datang hanya memberikan donasi untuk keberlangsungan tempat konservasi penyu ini biasanya pengunjung ada yang berdonasi mulai dari Rp.10.000,- hingga Rp50.000,-.

Lebih lanjut I Made Sukanta menambahkan,TCEC (Turtle Conservation And Education Center) memadukan empat aspek mendasar dalam pengelolaannya yaitu edukasi,ekologi, sosial budaya, dan ekonomi.(saf)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button