Wayne Rainey, Legenda Juara MotoGP yang Lumpuh dan Berakhir di Kursi Roda

jagatBisnis.com – Eks pembalap MotoGP tahun 1980 hingga 90-an, Wayne Rainey, menghabiskan sisa hidupnya di kursi roda karena kelumpuhan akibat kecelakaan saat balapan. Bagaimana perjalanan karier Rainey di ajang balap motor bergengsi tersebut?

Wayne Rainey merupakan mantan pembalap asal Amerika Serikat di era 80 hingga 90-an. Rainey menjadi juara untuk kelas 500cc World Championship (sekarang dikenal dengan MotoGP) sebanyak tiga kali.

Rainey memulai karier balapnya di ajang A.M.A. yang merupakan sebuah Kejuaraan Nasional Besar dan mencakup empat cabang olahraga trek tanah yang berbeda ditambah balapan jalan raya.

Pada tahun 1981, ia menyelesaikan musim Grand National sebagai pembalap trek tanah dan menduduki peringkat 15 di negara itu. Menyusul kesuksesannya di kelas roadrace Novice 250cc, Kawasaki mempekerjakannya untuk berkompetisi di AMA Superbike Championship 1982 sebagai rekan satu tim untuk Juara Nasional Eddie Lawson saat itu.

Di tahun berikutnya, Lawson pindah ke sirkuit Grand Prix dan Rainey mengambil alih peran sebagai pembalap terkemuka untuk meraih Kejuaraan Nasional 1983 untuk Kawasaki.

Pada tahun 1984, Rainey menerima tawaran untuk bergabung dengan tim balap Kenny Roberts Yamaha yang baru dibentuk untuk berlaga di kelas 250cc Kejuaraan Dunia Grand Prix.

Pria kelahiran 23 Oktober 1960 itu tak terlalu sukses di Eropa hingga memilih kembali ke Amerika Serikat dan bergabung dengan tim Maclean Racing di kelas 250. Ia bersaing ketat dengan pembalap Inggris Kevin Schwantz sebelum akhirnya memenangkan kejuaraan tersebut.

Pada tahun 1988 Rainey kembali ke Eropa dan kembali bergabung dengan Tim Roberts Yamaha, kali ini naik ke divisi utama 500cc dan mengendarai YZR500. Saingan beratnya Schwantz mengikutinya ke Eropa, menandatangani kontrak untuk balapan kelas 500cc dengan Tim Suzuki.

Pada tahun 1989, Rainey finis kedua secara keseluruhan di belakang Eddie Lawson, dengan memenangkan tiga balapan dan selalu meraih di podium di setiap balapan yang dia selesaikan.

Dari tahun 1990 hingga 1992, Rainey mencapai puncak kariernya dengan meraih tiga mahkota juara kelas 500cc berturut-turut untuk Yamaha. Rainey kembali terlibat dalam persaingan ketat dengan Kevin Schwantz untuk gelar keempat berturut-turut pada tahun 1993.

Dia memimpin klasemen dengan selisih 11 poin atas Schwantz dan memimpin balapan ketika dia mengalami kecelakaan yang mengakhiri kariernya di Grand Prix Italia di Misano.

Wayne Rainey Lumpuh Setelah Kecelakaan

Kecelakaan di Misano membuatnya mengalami kelumpuhan permanen dari dada ke bawah. Setelah meminta saran dari pemilik tim Williams yakni Frank Williams yang juga lumpuh, Rainey kemudian menjadi manajer tim untuk Marlboro Yamaha selama beberapa tahun.

Pensiunnya Rainey membuat rival abadinya, Schwantz pensiun dari sirkuit Grand Prix setelah musim 1995. Ia memilih berhenti membalap karena cedera yang mengganggu dan sebagian karena kehilangan saingan hebatnya di sirkuit.

Rainey menolak untuk berhenti balapan meskipun cacat dan membalap dengan Superkart yang dikendalikan tangan dalam seri World SuperKart yang berbasis di California Utara.

Dia tinggal di Monterey, California di sebuah rumah yang tidak jauh dari WeatherTech Raceway Laguna Seca. Berkat dedikasinya di dunia balap, Rainey masuk dalam ke Hall of Fame Sepeda Motor AMA pada tahun 1999.

FIM memberikan predikat Grand Prix “Legend” pada tahun 2000. Dia kemudian masuk ke dalam Hall of Fame Olahraga Motor Internasional pada tahun 2007, lalu pada tahun 2003, ia menjadi salah satu subjek dalam film dokumenter balap motor berjudul Faster.

Pada 2017 lalu, tepat 24 tahun pasca kecelakaan yang membuatnya lumpuh, Rainey mengenang momen GP Italia 1993 yang telah mengubah hidupnya selamanya dan mengakhiri kariernya dengan prematur.

“Ya, benar. Itu 24 tahun yang lalu, pada tanggal 5 September. Sudah lama tidak seperti ini dan 24 tahun adalah waktu yang lama. Saya mungkin akan melakukan beberapa hal berbeda sekarang, tetapi saat itu saya adalah pria berusia 33 tahun, juara dunia, yang bisa melakukan segalanya, dan kemudian tiba-tiba saya membutuhkan bantuan untuk berjalan, mengambil cangkir, atau apa pun,” ujar Rainey dalam sebuah wawancara dengan CycleWorld.com.

“Saya suka balapan dengan sepeda motor, saya menyukai kompetisi, saya menyukai tantangan. Saya suka balapan di level tertinggi. Saya menyukai semua kemenangan yang saya miliki, semua tempat kesepuluh yang saya dapat. Saya ingat perjuangan, persaingan. Sekarang, dalam situasi saya saat ini, saya mencoba untuk memperhatikan apa yang dialami beberapa orang ketika mereka kekurangan secara fisik. Saya peka terhadap itu.” (ser)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button