Waspada, Penularan Virus COVID-19 Varian Delta Lebih Cepat

JagatBisnis.com –  Varian delta COVID-19 diketahui telah menabur ke semua bumi termasuk di Indonesia. Pada Rabu kemarin, Badan Kesehatan Bumi( World Health Organization) mengatakan versi itu telah ditemukan di lebih dari 80 negeri dan lalu bermutasi saat menabur.

Riset telah membuktikan versi muara sungai ini bahkan lebih meluas daripada versi yang lain. Lalu kenapa cara penjangkitan versi muara sungai ini lebih kilat?

Dokter. dokter Tri Yunis Miko Meter. Scmenjelaskan kalau sejak ditemukan versi COVID- 19 ini dalam 3 bulan dari Januari hingga Maret sudah bermutasi dari styrotipe A, B, C. Sampai saat ini, tutur Tri Yunis sudah terindentifikasi terdapat 9 versi terkini mulai dari versi Alfa sampai versi Kappa.

” Versi muara sungai yang sangat beresiko, hingga di India memunculkan tsunami COVID- 19, di Indonesia pula memunculkan tsunami kecil. Tsunami awal kali di Jawa Tengah, kota Bersih, tsunami kedua timbul di Bangkalan, Madura, tsunami ketiga itu yang besar di DKI Jakarta itu terdapat 2 memunculkan tsunami awal versi Alfa dan versi Muara sungai tetapi versi yang besar memunculkan tsunami merupakan versi Muara sungai, bagus di Bersih, Bangkalan dan DKI Jakarta,” tutur Tri Yunis.

Beliau menjelaskan, versi Muara sungai yang masuk dalam katagori versi of concern oleh World Health Organization ini memunculkan gejala yang berlainan pada versi aslinya, ataupun virus aslinya. Versi of concern ini versi yang bermutasi memunculkan penjangkitan yang lebih kilat dari aslinya. Tidak hanya itu, versi Muara sungai ini pula memunculkan gejala yang berlainan.

” Virus asli ataupun versi asli melanda saluran respirasi, paru dan saluran respirasi mulut dan hidung, makanya mulut dan hidung kita tutup biar tidak masuk. jika versi Muara sungai tetap masuk melalui saluran respirasi tetapi gejala dapat di luar sistem respirasi dapat ke sistem pencernaan, otot tulang,” tutur ia.

Lebih lanjut, Tri Yunis menjelaskan versi muara sungai ini pula berakibat pada daya guna dari vaksin sebagai public intervension yang pula menurun banyak.

” Sinovac 66 persen efektovitasnya menyusut. bayangkan jika daya gunanya 66 persen jadi 50 persen tetapi masih tetap digunakan jika daya gunanya masih 50 persen,” tutur ia.

Beliau menambahkan, vaksin memberikan efikasi yang hampir memegang 80 persen artinya dari orang yang divaksin tentu dapat sakit sebesar 20 persen.

” Jika menggunakan Sinovac, jadi 35 persen dari orang yang divaksin masih dapat sakit apalagi dengan terdapatnya versi terkini efikasinya turun 15- 20 persen bahkan 50 persen orang yang divaksin dengan terdapatnya versi terkini ini dapat terkena jadi itungannya mengapa orang yang divaksin dapat sakit, apalagi yang tidak divaksin. Orang yang sekali terkena dapat terkena 2 sampai 3 kali, bayangkan yang tidak divaksin. Orang yang divaksin akan mencuat gejala enteng dibanding yang tidak divaksin,” tutur ia.(ser)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button