Wanita Cantik Sering Jadi Korban Pelecehan Seksual

JagatBisnis.com – Sebuah informasi yang diterbitkan dalam Journal of Personality and Social Psychology, menguak kalau perempuan belia dan menarik yang berperan dengan cara ayu punya mungkin lebih besar untuk diperoleh kala membuat dakwaan pelecehan intim.

Penemuan riset ini dipimpin Universitas Washington( UW) mengaitkan lebih dari 4. 000 partisipan, mengatakan anggapan kalau perempuan prototipe mungkin besar akan dilecehkan. Riset pula membuktikan kalau perempuan di luar norma yang didetetapkan dengan cara sosial ataupun perempuan non- prototipe lebih mengarah dianggap tidak dibebani pelecehan.

Perihal itu membuat perempuan yang tidak sesuai dengan prototipe berpotensi mengalami halangan yang lebih besar saat berupaya pastikan tempat kegiatan ataupun majelis hukum kalau mereka telah dilecehkan. Melihat perihal itu, seorang mahasiswa pascasarjana ilmu jiwa di UW dan pengarang utama riset ini, Bryn Bandt- Law memberikan komentarnya.

” Akibat dari perihal itu amat parah untuk perempuan yang terletak di luar representasi kecil tentang siapa korbannya,” ucapnya.

” Wanita nonprotipikal diabaikan dengan cara yang bisa menyebabkan mereka mendapatkan perlakuan eksklusif di dasar hukum; orang berpikir mereka kurang kredibel- dan kurang dirugikan- ketika mereka membuat klaim dan berpikir kalau pelakunya layak mendapatkan ganjaran yang lebih sedikit,” jelasnya.

Riset ini dipimpin bersama Hantu Goh, mantan periset di UW saat ini di Colby College, dan Nathan Cheek dari Princeton University. Periset mengatakan ilham untuk riset itu berawal dari gerakan#MeToo, pelecehan intim.#MeToo dan gerakan terkait berdayakan orang untuk ungkapkan pengalaman mereka dengan pelecehan intim, yang didefinisikan oleh Komisi Peluang Kegiatan Sebanding AS sebagai pembedaan kelamin dan atau ataupun sikap intim yang tidak di idamkan yang bisa mempengaruhi kemampuan dan area kegiatan seseorang.

Gerakan ini pula mendesak orang untuk sebutkan pelaku dan dalam sebagian permasalahan mengutip tindakan hukum. Tetapi kala pengarang riset memantulkan selebritas yang berjalan maju, mereka mau mempelajari lebih jauh buah pikiran hal integritas. Mereka membuat serangkaian penelitian untuk dipecah di antara 4. 000 partisipan untuk menanggapi 3 persoalan riset.

Sebagian skrip ialah pelanggaran hukum yang jelas dan berat, sebagian jelas tidak beresiko, dan sebagian tidak jelas. Untuk menanggapi persoalan riset hal siapa yang mungkin akan dilecehkan, sebagian partisipan dimohon melukis perempuan yang dilecehkan ataupun tidak dilecehkan, tergantung pada tugasnya.

” Kala Kamu membuat anggapan tentang pelecehan, Kamu pula menghubungkannya dengan kewanitaan, tetapi cara kita menguasai kewanitaan didefinisikan dengan amat kecil. Jadi untuk siapa juga yang terletak di luar arti itu, akan susah untuk menghubungkannya dengan pelecehan,” tutur pengarang tua dan guru besar ilmu jiwa UW, Cheryl Kaise.

Satu bidang yang menginginkan riset lebih lanjut hal prototipe pelecehan merupakan banyak alterasi antara kelompok di antara wanita, spesialnya suku bangsa, etnik, arah intim, dan bukti diri kelamin. Dengan cara totalitas, periset yakin penemuan mereka tolong menggambarkan gimana hukum tidak senantiasa melindungi banyak orang.

” Jika kita memiliki anggapan bias tentang ancaman untuk perempuan non- prototipe, itu akan dengan cara ekstrem mengganti hasil hukum mereka,” tutur Bandt- Law.” Jika mereka tidak dipercaya, mereka dengan cara efisien dibungkam,” jelasnya.(ser)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button