Subiakto Priosoedarsono Dianugerahi Lifetime Achievement Appreciation

JagatBisnis.com –  Nama Subiakto Priosoedarsono dan dunia branding di Tanah Air sudah tak bisa dipisahkan. Lewat kemampuan kreatifnya yang sangat menonjol, Pak Bi –demikian dia akrab disapa – bahkan bisa disebut salah satu legenda hidup dunia branding Indonesia.

 

Hal ini bisa dimaklumi. Pertama, dari sisi lamanya karier yang dijalani. Pak Bi dikenal sosok yang sangat berdedikasi untuk branding. Hidupnya sudah diwakafkan untuk memajukan dunia branding nasional. Dia merupakan sedikit di antara tokoh periklanan tiga zaman yang masih aktif dan konsisten berkiprah sejak 1969 hingga sekarang. Sebagai praktisi branding, dia banyak berguru dengan mendiang Nuradi (InterVista), pelopor advertising modern di Indonesia. “Kelebihannya bermain kata-kata sangat luar biasa. Saya ikut terinspirasi oleh Pak Nuradi,” ujar Pak Bi.

 

Bicara karier profesional dunia branding, jejak lelaki kelahiran Probolinggo, 24 Agustus 1949 di perusahaan periklanan di Tanah Air terentang panjang. Mengawali karier profesional di perusahaan modern packaging sebagai art director, Pak Bi digembleng di bawah bimbingan para ahli dari mancanegara seperti dari Norwegia, Swedia, India, Pakistan dan Singapura. Pengalaman itu membuat keterampilan branding-nya lewat packaging jadi mumpuni (1969-1976).

 

Setelah dari PT Guru Indonesia, berturut-turut dia mendirikan Lubberizky Advertising, in house agency PT Media Network Consolidated (1976 – 1978), dan inhouse agency PT Nirwana Photo (1977 – 1980). Bersama Baty Subakti, Subiakto mendirikan advertising agency PT Baty & Biakto Advertising (B&B Adv) pada 1979 – 1990. Setelah itu mendirikan PT Hotline Advertising (1989 – 2013).

 

Kedua, dari sisi karya, Pak Bi sangat fenomenal. Bukan satu-dua masterpiece yang telah lahir dari tangannya. Beberapa karya fenomenalnya, antara lain: “Sakura Film Ranca Bana” (1978); “Kalau sudah duduk, lupa berdiri” (1980); “Engran Sarapan Kedua” (1981), “Gantinya Ngopi” (1986), “Xonxeenya manaaa…” (1992); “Merubah Ngos Jadi Joss” (1995); “Bersama Kita Bisa” (2004); dan “Coblos Kumisnya” (2007). “Saya beruntung mendapat kesempatan membesarkan brand-brand nasional yang sekarang mendunia seperti Indomie dan Kopiko,” ucap Subiakto.

 

Ketiga, kontribusi membangun branding di kalangan UKM. Setelah malang melintang di dunia branding level korporasi besar, dalam beberapa tahun terakhir, Pak Bi mengabdikan dirinya ke branding UKM. Sejak tahun 2014, Subiakto berkeliling Indonesia menyebar virus branding, membangun kesadaran tentang arti branding di kalangan UKM. Hal itu dilakukannya karena dia merasa prihatin melihat pemahaman serta pengetahuan branding di kalangan UKM begitu jauh tertinggal. Secara rutin dan konsisten, Pak Bi menggelar Workshop “Bisa Bikin Brand”.

 

Dimulai sejak 2016, hingga kini, workshop sudah berlangsung 57 angkatan, dengan total alumni sebanyak 1500 orang.

 

“Saya berharap para alumni ini dapat menjadi motor kebangkitan brand-brand lokal di Indonesia, khususnya brand kalangan UKM. Juga tak kalah pentingnya mem-branding Indonesia, memantapkan positioning Indonesia selaku pusat rempah dunia,” kata Subiakto.

 

Kiprah dan prestasi yang luar biasa inilah yang kemudian mengilhami para penggagas Indonesia Brand Forum (IBF) 2021 untuk memberikan penghargaan sebagai tanda penghormatan yang setinggi-tingginya kepada Subiakto.

“Bila di film ada Oscar, di musik ada Grammy, di dunia branding sepertinya belum ada penghargaan. Dengan mempertimbangkan apa yang sudah dirintis, dilakukan, serta dicapai Pak Bi, kami dari IBF 2021 merasa perlu memberikan penghargaan kepada beliau. Cita-cita beliau, spirit, komitmen, dan konsistensi dalam dunia branding di Tanah Air, terutama dalam mendorong brand-brand lokal, yang dilakukan selama 50 tahun merupakan hal yang luar biasa. Setengah abad bukanlah waktu yang singkat,” kata Yuswohady dari IBF 2021.

 

“Pak Bi adalah mutiara di dunia periklanan. Biasanya tagline sebuah iklan, dalam waktu 10 tahun itu berganti. Tapi tagline yang dibuat Pak Bi tak lekang oleh zaman. Itu artinya dibuat dengan hati. Sungguh talent yang istimewa. Karyanya timeless, lintas generasi,” tambah Yuswohady. Belakangan, dengan masuk mendorong branding UKM, Pak Bi menunjukkan dirinya adalah orang yang bukan hanya kreatif, tapi juga lincah. “Itulah sebabnya saya menyebut Pak Bi is an agile brand. Personal branding-nya tak luntur. Jadi, saya melihat beliau sosok yang komplet, humble, lifetime learner, dan agile,” Yuswohadi menegaskan kembali.

Penghargaan itu diberikan Yuswohady dalam acara Indonesia Brand Forum (IBF) 2021 pada 4 November 2021. Sebelum menutup acara yang berlangsung 2-4 November 2021 itu, Yuswohady memandu Lifetime Special Talkshow bersama Subiakto. Dalam talkshow ini Subiakto kembali menegaskan bahwa komitmen dirinya terhadap dunia branding di Tanah Air tak akan pernah pudar, terutama untuk kalangan UKM. Dia juga berpesan buat anak-anak milenial yang ingin membangun personal branding. “Temukan value Anda. Ini adalah purpose Anda. Lalu, gali dan dalami sehingga bisa menjadi kompetensi. Dengan komitmen dan konsistensi, akan lahir prestasi. Berikutnya terbangunlah reputasi, dan ujungnya adalah sebuah legasi,” katanya penuh makna.(boy)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button