Skala Prioritas Berbasis Cinta Ala Dewi Motik

JagatBisnis.com –  Selama 5 hari, Professional Women’s Week (PWW) 2021 digelar secara hybrid (online dan offline). Acara yang digagas Desainer Nina Nugroho yang bertema“#akuberdaya” diadakan sejak Senin (20/9/2021) hingga Jumat (24/9/2021). Pada hari kelima, pengusaha Dewi Motik Pramono menjadi bintang tamu pada gelaran ini.

Dewi Motik mengapresiasi Nina Nugroho yang menggagas PWW 2021. Karena tema yang diangkat sangat relevan dengan kondisi dunia saat ini. Wanita berperan penting menjaga kesehatan diri dan keluarga sembari terus meningkatkan daya agar menjadi manfaat bagi sesama.

“Acara ini pun terselenggara untuk mendukung para wanita profesional di seluruh Indonesia menikmati kehidupan terbaiknya dengan mengoptimalkan kontribusi multi-perannya di kantor dan di rumah,” ungkap Dewi Motik pada acara penutupan PWW 2021 secara virtual, Jumat (24/9/2021).

Pada kesempatan itu. Dewi Motik ditanya bagaimana menyeimbangkan kesehatan fisik dan psikis di masa sulit, khususnya pandemi Covid-19. Ibunda artis Moza Pramita ini mengatakan skala prioritas berbasis cinta patut disusun. Karena Tuhan harus berada di urutan teratas. Sehingga berkah akan mengaliri kehidupan manusia. Karena hidup hanya sementara. Pada akhirnya fase fana akan berakhir dan setiap makhluk hidup, termasuk manusia akan kembali ke pangkuan Sang Mahacinta.

“Jadi kalau cinta jangan sama manusia, cinta sama Tuhan dulu, sudah pasti tidak akan gagal. Itulah siasat dari saya, mencintai Tuhan di atas segala-galanya. Saya merasa apapun keputusan mau itu sakit, bagus itu hanya cobaan,” katanya.

Dewi Motik Pramono mengungkapkan, hidup hanya sementara. Suatu saat manusia akan dimintai pertanggungjawaban perihal titipan. Apapun hebatnya orang itu, kalau dia tidak berguna untuk orang lain, lebih baik diam saja,” tegasnya.

Sementara itu, Nina Nugroho menambahkan, wanita Indonesia adalah individu yang berdaya dalam apapun peran yang dimainkannya. Acara ini pun menjadi sebuah perayaan atas keberdayaan itu. Keberdayaan yang menjadi pondasi utama negeri ini, masa kini dan masa yang akan datang. Apalagi, wanita memiliki kemampuan multitasking serta keluasan hati yang tak ada ujungnya. Wanita adalah tonggak keluarga.

“Hastag #akuberdaya memiliki makna bahwa wanita pada dasarnya sudah memiliki daya dalam dirinya. Secara alami, wanita mampu memikul rasa sakit melahirkan dengan nyawa sebagai taruhannya. Maka kami tidak menggunakan istilah ‘pemberdayaan’, melainkan ‘keberdayaan’. Wanita bukannya perlu diberdayakan, melainkan dilejitkan keberdayaannya,” tutup Nina. (eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button