Potret Satelit NASA, Hasilkan Hutan Papua uang Makin Gundul

JagatBisnis.com –  Kawasan hutan Papua mengalami deforestation hingga 750 ribu hektar (ha) dalam 18 tahun terakhir. Artinya, sekitar 2 persen dari luas keseluruhan hutan di Papua sudah gundul akibat pertambangan. Hasil itu didapat dari perbandingan foto satelit NASA yang diambil pada 2001 dan 2019.

Peneliti penginderaan jauh NASA, David Gaveau mengungkapkan saat Ini hutan wilayah Papua sebanyak 28 persen hutannya hilang dan digunakan untuk tanaman industri seperti sawit. Sedangkan, 23 persen lainnya untuk sistem pertanian ladang berpindah, 16 persen karena tebang pilih, 11 persen untuk perluasan sungai dan danau, 5 persen karena kebakaran, dan 2 persen untuk pertambangan.

“Meski 2 persen dari total keseluruhan hutan terlihat kecil. Namun, angka tersebut bisa menjadi sesuatu yang berbahaya jika deforestasi berlanjut. Jika dihitung kasar, hilangnya 2 persen hutan dalam 2 dekade akan membuat tanah Papua pada milenial berikutnya tidak memiliki hutan sama sekali,” katanya yang dikutip dari Situs NASA, Sabtu (13/11/2021).

Dia menjelankan, deforestasi dalam skala yang lebih kecil melibatkan aktivitas tebang pilih, perubahan alami jalur air, dan penebangan skala kecil oleh petani.
Selain itu, beberapa wilayah transisi hutan dan padang rumput yang juga mengalami deforestasi diasosiasikan dengan kebakaran hutan musiman yang kerap terjadi.

“Kini sejumlah wilayah di bagian Selatan Papua yang didominasi hutan hujan dataran rendah dan rawa-rawa nampak hilang untuk digantikan dengan tanaman-tanaman besar, termasuk salah satunya wilayah di dekat kota Tanah Merah,” imbuhnya.

Secara terpisah, analis dari lembaga penelitian non profit RTI International, Kemen Austin menambahkan, deforestasi yang terjadi di Papua selama 2 dekade ke belakang ini, jika dibiarkan akan mengancam keberagaman hayati di kawasan tersebut. Karena penurunan deforestasi yang terjadi di pulau besar seperti Sumatera dan Kalimantan sudah berpindah ke Papua.

“Deforestasi di Sumatera dan Kalimantan disebabkan habisnya lahan yang cocok untuk pertanian, perkebunan dan, meningkatnya harga lahan di pulau itu ini. Sehingga Papua dilihat sebagai wilayah berikutnya, dan investasi baru-baru ini di bidang infrastruktur telah membuat pertanian dan perkebunan di wilayah ini lebih menarik secara ekonomi,” tambahnya. (*/esa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button