Perkuat Rantai Pasok, 3 Menteri Berkolaborasi Dorong Koperasi, UMKM dan IKM Bermitra dengan BUMN

JagatBisnis.com – Kementerian Koperasi dan UKM, bersama Kementerian Perindustrian dan Kementerian BUMN bersinergi menghubungkan pelaku Koperasi, Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) dan Industri Kecil, Menengah (IKM) untuk terhubung ke dalam rantai pasok global (global value chain). Hal ini bertujuan untuk mendorong peningkatan ekspor, dan penguatan substitusi impor. Adapun nilai kerja samanya sebesar Rp52,23 miliar.

“Isu strategis terkait rantai pasok menjadi perhatian, hal ini disebabkan masih rendahnya kemitraan koperasi, UMKM dan IKM terhubung dalam rantai nilai global. Apalagi, saat ini keterlibatan UMKM pada rantai pasok juga masih minim, hanya mencapai 6,3 persen dalam rantai nilai global,” kata Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki usai menandatangani MoU tersebut yang digelar secara virtual, Jumat (3/9/2021).

Berita Terkait

Dia mengakui, memang perlu ada terobosan untuk mengubah struktur ekonomi yang didominasi usaha mikro agar dapat naik kelas menjadi lebih baik. Karena 99,9 persen
UMKM yang menguasai ekonomi Indonesia yang kebanyakan informal dan tidak produktif. Sehingga mendorong pemerintah untuk mencari potensi-potensi pengembangan kemitraan antara koperasi dan UMKM/IKM dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun swasta.

“Implementasi kegiatan ini, sebagai percontohan adalah kemitraan koperasi, UMKM dan IKM dengan enam BUMN, yakni PT Pertamina, PT PLN, PT Kimia Farma, PT Krakatau Steel, Perum Perhutani dan RNI (Persero). Untuk tahap awal ada sembilan,” kata Teten.

Menurut Teten sinergi ini sangat penting, karena merupakan salah satu upaya untuk mendorong, koperasi, UMKM dan IKM sebagai kekuatan ketahanan ekonomi, dalam rangka mendukung pertumbuhan yang berkualitas dengan sasaran utama peningkatan nilai tambah, daya saing, investasi, ekspor, substitusi impor dan perluasan lapangan kerja melalui penguatan Koperasi, UMKM dan Kewirausahaan.

“Jadi, kemitraan UMKM dan BUMN dalam rantai pasok ini saya kira ini salah satu terobosan. Bahkan, kontribusi ekspor UMKM juga masih rendah dengan persentase 14 persen, jauh dibandingkan China sebesar 70 persen dan Jepang sebanyak 54 persen.
Karenanya, UMKM harus segera menjadi bagian dari rantai pasok industri nasional dan global,” ungkapnya.

Pada kesempatan yang sama, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan, peningkatan daya saing dalam rangka pemulihan UMKM/IKM tengah menjadi prioritas, khususnya dalam rangka pemulihan ekonomi nasional. Upaya tersebut memerlukan usaha yang sangat keras, progresif dan kolaboratif dari seluruh pemangku kepentingan.

“Dalam rangka pemberdayaan IKM, kami sudah menyelenggarakan berbagai program pembinaan dan pendampingan terhadap IKM agar mampu secara jumlah dan kualitas untuk menjadi bagian dari rantai pasok industri dalam negeri dan global, baik melalui pengembangan ekosistem rantai pasok hingga kemitraan dengan industri besar dan BUMN serta melalui platform marketplace dan juga ke pengadaan barang pemerintah dan BUMN”, bebernya.

Sementara itu, Menteri BUMN, Erick Thohir menambahkan, kemitraan ini, tidak hanya berdampak positif untuk Koperasi, UMKM, dan IKM, serta perputaran ekonomi. Karena adq peran strategis dalam peningkatan TKDN di BUMN dengan mengurangi penggunaan komponen produk impor dalam proses produksinya. Hal ini selaras dengan arahan Presiden Joko Widodo untuk mengoptimalkan penggunaan produk dalam negeri yang dimulai dari Pemerintah dan BUMN.

“Selain mendorong Koperasi dan UMKM masuk dalam rantai pasok global, juga terdapat program strategis yang dikembangkan Kementerian Koperasi dan UKM yaitu memperluas akses pasar, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Diantaranya, melalui program digitalisasi UMKM, hingga memperkuat lokal brand agar bisa go global,” pungkas Erick. (eva)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button