Perempuan sebagai Motor Penggerak Perlindungan Awak Kapal Perikanan

JagatBisnis.com –  Perempuan merupakan mitra sejajar laki-laki yang memiliki peran dalam pembangunan nasional dan peningkatan kesejahteraan keluarga. Hasil studi SAFE Seas Project Filipina tentang “Pengaruh Kerja Paksa dan Perdagangan Orang Awak Kapal Perikanan Pada Kerabat Perempuan” turut menunjukan bahwa perempuan dalam rumah tangga Awak Kapal Perikanan (AKP) memiliki peran penting dalam pengambilan keputusan terkait keuangan rumah tangga termasuk dalam pengajuan negosiasi pinjaman.

Hari Perempuan Internasional dirayakan setiap tahunnya pada tanggal 8 Maret untuk memperingati perjuangan perempuan di seluruh dunia dalam mendorong perdamaian, keadilan, kesetaraan dan pembangunan.

Stefi Hiborang adalah seorang istri dari AKP asal Pulau Lembeh, Sulawesi Utara. Sebagai istri AKP, Stefi terbiasa untuk ditinggal suaminya karena tuntutan sebagai AKP yang harus melaut selama berbulan-bulan. Stefi mengetahui pekerjaan AKP berat, berbahaya dan pemenuhan hak tenaga kerjanya masih sering terabaikan. Sebagai perempuan modern, Stefi percaya bahwa dirinya memiliki peran yang penting untuk memperjuangkan kesejahteraan keluarganya dan juga istri AKP lainnya yang memiliki nasib sama dengan dirinya.

Stefi bergabung di Serikat Awak Kapal Perikanan Sulawesi Utara (SAKTI) sejak Oktober 2020 untuk lebih mengetahui tentang isu-isu yang dihadapi AKP terkait hak dan kewajiban kerjanya, dan mengadvokasi ke pemerintah daerah untuk lebih banyak memberikan perhatian terkait perlindungan ketenagakerjaan. Selama bergabung di dalam SAKTI, Stefi menjadi lebih paham tentang perlindungan AKP, dan dapat menyuarakan hak-hak suaminya. Pengetahuan yang didapatkan Stefi dijadikan aksi kolektif bersama dengan istri dan kerabat perempuan AKP lainnya untuk menyebarluaskan informasi hak AKP secara lisan dan juga melalui Facebook dan WhatsApp. Melalui aksi ini, hak AKP yang hilang dapat terpenuhi – dan untuk suami Stefi, kini hak Tunjungan Hari Raya (THR) sudah didapatkan.

“Memang dulunya kami tidak tahu apa-apa soal aturan maupun undang-undang terkait perlindugan awak kapal perikanan dan hanya pasrah menerima keadaan yang terjadi dan tidak tahu pada siapa akan kami adukan persoalan suami kami sebagai pekerja AKP,” jelasnya.

Di Jawa Tengah, perjuangan perlindungan AKP juga dilakukan oleh Taruni, istri seorang AKP migran di kapal asing Peru, Amerika Serikat asal Desa Kramat, Kabupaten Tegal. Suaminya berangkat sejak bulan Maret 2019 dan baru kembali ke Indonesia pada Januari 2021 karena perusahaan menahan suami dan kru lainnya selama setahun akibat pandemi coronavirus disease (COVID-19). Selama penahanan, suami Taruni tidak mendapatkan jaminan sosial dan harus menunggu gaji cair dalam 6 bulan dengan dibayarkan secara cicilan.

Taruni berjuang mencari jalan keluar agar suaminya bisa pulang ke Indonesia dengan mendatangi Fishers Center, tempat informasi, edukasi dan rujukan perlindungan AKP yang berlokasi di Kota Tegal. Melalui bantuan rujukan dari Fishers Center, Taruni melaporkan masalah yang dialami suaminya ke pemerintah dan KBRI Peru untuk membantu proses pemulangan.

Melalui pendekatan inklusif yang dilakukan SAFE Seas Project, Stefi, Taruni, istri dan kerabat perempuan AKP lainnya dapat menginspirasi semua orang untuk menjadi penggerak perubahan untuk perlindungan AKP, dan mendorong perempuan untuk bisa memperjuangan keadilan untuk perempuan dan juga laki-laki.

Keberadaan SAFE Seas Project berdampak besar untuk peningkatan pengetahuan terkait payung hukum untuk menjamin kesejahteraan AKP baik pengupahan, kesehatan, keselamatan dan kesejahteraan tenaga kerja.

“Sosialisasi dan edukasi yang kami dapatkan terus kami galakkan kepada para kelompok dan AKP di kota Bitung guna mencegah terjadinya kerja paksa dan perdagangan orang di kapal penangkapan ikan,” tegas Stefi. (srv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button