Peran Penting Manajemen Masjid sebagai Pengurangan Risiko Bencana

JagatBisnis.com  –  Setiap bencana datang, masjid dijadikan tempat titik kumpul maupun sentral untuk evakuasi masyarakat. Kedatangan masyarakat tersebut tidak diimbangi oleh pengetahuan bencana kepada remaja masjid. Remaja masjid harus mempunyai pengetahuan kebencanaan untuk merespon setiap bencana yang datang terutama masyarakat yang menggunakan masjid sebagai titik kumpul.

Menurut Berton Suar Pelita P, sebagai Kepala Pusat Pendidikan dan Pelatihan BNPB di sela-sela dialog diskusi bersama DMI (Dewan Masjid Indonesia) pada Sabtu, 13/03/2021, mengatakan ada tujuh objek ketangguhan bencana di pra bencana, meliputi keluarga tangguh bencana di sini harus memikirkan potensi bencana di keluarga, satuan pendidikan aman bencana dimana sekolah, kampus harus memiliki para relawan hingga program penanggulangan bencana, pasar tangguh bencana karena pasar menjadi hal yang utama di hidupkan sebagai sumber perekonomian, puskesmas tangguh bencana, kantor aman bencana, obyek vital bandara, terminal, pariwisata, hotel dan lain-lain dan rumah ibadah tangguh bencana ”.

“Pada rumah ibadah tangguh bencana kita harus melihat di pilar nomor satu yakni fasilitas ibadah aman meliputi penempatan lokasi tempat ibadah bukan di lokasi rawan bencana, desain dan pembangunan tempat ibadah sesuai dengan aturan dan standar keamanan bangunan, penguatan bangunan tempat ibadah untuk aman dari bencana, perawatan sarana dan prasarana tempat ibadah, kualitas bangunan hingga tata letak perabotan. Semetara pada pilar kedua merujuk pada manajemen bencana tempat ibadah, ini harus kita bina manajemen rumah ibadah misalnya Dewan Masjid Indonesia membentuk tim penanggulan bencana disetiap rumah ibadah maka penetapan kegiatan di rumah ibadah hingga penyuluhan kesiapsiagaan menghadapi bencana dan pada pilar ketiga merujuk pendidikan pengurangan risiko bencana mencakup melakukan pelatihan hingga sosialisasi sehingga bisa dilakukan oleh Dewan Masjid Indonesia mencapai ketangguhan rumah ibadah,” tambah Berton Suar Pelita P.

Syamsul Ardiansyah selaku Officer Kajian Kebijakan dan Pengembangan Wakaf Dompet Dhuafa mengatakan, “DMI harus menerapkan 3 pilar, meliputi struktur bangunan yang aman, sistem kesiapsiagaan berbasis masjid dan kajian kesiapsiagaan dan respon bencana yang sistematis. Belajar kejadian di Lombok, LAZ DASI NTB mencatat terdapat 55 masjid yang rusak akibat gempa, DMI Sulawesi Tengah mencatat 191 masjid di Sulawesi Tengah rusak akibat gempa , tsunami dan likuefaksi. Dengan hal ini aspek struktur bangunan harus sangat diperhatikan. Pengelolaan masjid mencakup aspek kesiapsiagaan menghadapi bencana dan dengan pengurus yang memiliki pengetahuan, terlatih dan terampil mengenai dasar-dasar kesiapsiagaan bencana dan respon efektif. Serta kajian-kajian yang digelar oleh masjid tidak hanya seputar kajian-kajian ritual yang berorientasi pada ‘Hablumminallah’ tapi juga ‘hablumminannas’ dan ‘hablumminal’alam’.

Mengenalkan pada masyarakat tentang penanggulangan bencana bisa dilihat dari siklus bencana yang setiap bulannya terdapat bencana. Masjid-masjid harus ramah juga kepada penyandang disabilitas sehingga bisa diakses semua individu disaat bencana. Persaudaraan antar masjid harus diperkuat sehingga dapat saling membantu bagi masjid-masjid yang terdampak bencana. (srv)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button