Penyandang Kanker Ternyata Juga Butuh Vaksin COVID-19

JagatBisnis.com – Di era pandemi saat ini ini, penyandang kanker ialah salah satu kelompok rentan terkena COVID- 19 bahkan bisa menyebabkan kematian. Berdasarkan informasi Satgas Penindakan COVID- 19, sebesar 1, 8 persen permasalahan afirmasi positif memiliki penyakit penyerta kanker, dan sebesar 0, 5 persen penderita COVID- 19 meninggal dengan penyakit penyerta kanker.

Pimpinan Perhimpunan Hematologi Onkologi Medik Ilmu Penyakit Dalam Indonesia( PERHOMPEDIN), Dokter. dokter. Tubagus Djumhana Atmakusuma, SpPD, K- HOM mengatakan, kanker ialah penyakit yang diakibatkan oleh peradangan. Bila terkena COVID- 19, pengidap beresiko besar menyebabkan kematian.

Oleh karenanya, kelompok beresiko besar spesialnya kanker pula menginginkan vaksin COVID- 19 untuk membuat imunitas badan. Tetapi, pemberian vaksin tidak bisa asal- asalan, wajib di dasar pengawasan kedokteran.

“ Penderita kanker bisa menyambut vaksin COVID- 19, tetapi tetap di dasar pengontrolan kedokteran,” tuturnya semacam diambil dari keterangan resminya, Jumat 5 Februari 2021.

Biarpun diperbolehkan, tidak seluruh penderita kanker dapat mendapatkan vaksinasi. Penderita wajib melalui serangkaian pengecekan kesehatan dan melihat riwayat pengawasan medisnya, terkini setelah itu diputuskan apakah yang berhubungan bisa menyambut vaksin COVID- 19.

“ Terdapat yang dapat menyambut dan terdapat yang tidak dapat menyambut, tetapi vaksinnya wajib vaksin yang tidak mematikan pasiennya,” tuturnya.

dokter. Jumhana mengatakan, terdapat sebagian patokan penderita kanker yang diperbolehkan menyambut vaksin merupakan penderita yang telah mendapatkan remisi di antara lain tumor ladat sesudah operasi yang remisi kumplit dan penderita kanker yang mendapatkan chemotherapy lebgkag diklaim remisi komplit.

Tidak hanya itu, vaksin pula pantas diserahkan pada penderita kanker dengan status kebal bagus diamati dari gejala sistemiknya, kadar leukosit wajar, penderita kanker yang telah menuntaskan 6 bulan chemotherapy sistemik aktif.

Terkait dengan jenis vaksin, bagi dokter. Jumhana, seluruh vaksin direkomendasikan untuk diserahkan pada penyandang kanker, melainkan vaksin hidup( live attenuated dan replication- competent viral vector vaccine). Penyuntikannya pula wajib disupervisi oleh Dokter Ahli Kanker di rumah sakit ataupun cancer center.

Dalam peluang yang serupa, Ketua Pencegahan dan Pengaturan Penyakit Tidak Meluas, dokter. Cut Gadis Arianie, MH. Kes, mengatakan usaha penindakan kanker di era endemi lalu dilakukan dengan teratur melakukan usaha promotif melindungi dan penemuan dini ataupun skrining di FKTP, dan eksploitasi digitalisasi kesehatan semacam telemedicine untuk mengurangi aktivasi penyandang kanker.

Saat ini telah terdapat 47 Rumah Sakit terhambur di 17 provinsi di Indonesia yang sanggup memberikan pelayanan onkologi dengan radioterapi, 23 Rumah sakit lainya menyusul sedang dalam cara pengembangan. Diharapkan keberadaan Rumah sakit ini akan mendekatkan dan memudahkan pelayanan kanker untuk warga Indonesia

“ Alhasil keberadaan Rumah sakit ini akan bisa jadi referensi untuk para penyandang kanker,” tuturnya. (ser)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button